DEMI SENYUM IBU
Anas duduk terdiam dalam kesunyian malam. Wajahnya yang kusut, semakin kelihatan jelas yang diterangi bias sinar rembulan. Ditemani segelas kopi, ia duduk di teras depan rumahnya. Ia terus menatap nanar cahaya rembulan, yang seakan mengerti akan keadaannya. Malam semakin larut, dan mengharuskan ia segera bergegas memasuki rumahnya. Di dalam rumah, terlihat kedua orang tuanya tidur dengan lelapnya, setelah lelah bekerja. “Hmm…kalian adalah semangatku. Maafkan anakmu ini bu, pak, yang belum bisa membahagiakan kalian. Tapi, aku akan buktikan aku akan membuat kalian tersenyum bangga dan berkata “ aku bangga anakku” , ucap Anas lirih. Anas terus melangkah menuju kamarnya. Sebelum ia membaringkan badan, ia sempatkan untuk membaca beberapa lembar buku. Membaca buku merupakan rutinitas yang tak bisa Anas tinggalkan. Walaupun hanya beberapa lembar, pasti Anas sempatkan untuk membaca, karena ia tahu bahwa membaca adalah jendela dunia....