DEMI SENYUM IBU



Anas duduk terdiam dalam kesunyian malam.  Wajahnya yang kusut, semakin kelihatan jelas yang diterangi bias sinar rembulan. Ditemani segelas kopi, ia duduk di teras depan rumahnya.  Ia terus menatap nanar cahaya rembulan, yang seakan mengerti akan keadaannya. Malam semakin larut, dan mengharuskan ia segera bergegas memasuki rumahnya.  Di dalam rumah, terlihat kedua orang tuanya tidur dengan lelapnya, setelah lelah bekerja.
“Hmm…kalian adalah semangatku.  Maafkan anakmu ini bu, pak, yang belum bisa membahagiakan kalian.  Tapi, aku akan buktikan aku akan membuat kalian tersenyum bangga dan berkata “aku bangga anakku”, ucap Anas lirih.
Anas terus melangkah menuju kamarnya.  Sebelum ia membaringkan badan, ia sempatkan untuk membaca beberapa lembar buku.  Membaca buku merupakan rutinitas yang tak bisa Anas tinggalkan.  Walaupun hanya beberapa lembar, pasti Anas sempatkan untuk membaca, karena ia tahu bahwa membaca adalah jendela dunia.  Dengan membaca, ia mampu menjelajahi dunia.  Walau hanya pikiran dan imajinasinya saja yang berpetualang menjelajahi dunia.  Tapi, ini mungkin adalah awal dari mimpiku untuk menjelajahi dunia yang sebenarnya.
“Astaghfirulloh hal ‘adzim……aku belum sholat”, ucap Anas.
Anas segera menuju kamar mandi dan mengambil air wudhu. Kakinya melangkah pelan menuju tempat sholat.  Dalam setiap doanya selalu disisipkan nama kedua orang tuanya, karena baginya hidup ini hanya untuk membahagiakan kedua orang tuanya.  Ia selalu ingat betapa ia disayangi, dimanja, dirawat oleh orang tuanya.  Setiap hari mereka bekerja di bawah panasnya terik matahari, membanting tulang demi aku.  “Betapa hebat orang tuaku”, ucap Anas.
            Malam semaikn gelap, udarapun semakin dingin. Anas segera membaringkan badannya di atas kasur yang agak keras.

***
Udara pagi yang segar. Merdunya kicauan burung membangunkan Anas dari mimpi indahnya.  Embun pagi masih menetes.  Tapi, kedua orang tua Anas sudah siap pergi ke sawah.  Makanan sudah tersaji di meja makan yang sederhana.  semua duduk melingkar untuk sarapan. 
“Hari ini kita makan dengan lauk ikan asin ya nak”, kata Ibu.
“Iya bu, ini jauh lebih enak dari pada makanan di restoran-restoran di hotel  bintang lima bu, karena ini masakan ibuku tercinta”, puji Anas.
“Hehee…anak ibu, memang pandai memuji, ucap Ibu.
“Anas berangkat sekolah ya bu, pak (sambil mencium tangan kedua orang tuanya)”.
“Iya, hati-hati nak, ucap kedua orang tua Anas kompak”.
            Dipayungi langit biru yang membentang luas, Anas mengayuh sepeda bututnya menuju sekolahnya. MTs N Kebumen 1, di sanalah Anas menuntut ilmu untuk menggapai cita-citanya. Di sepanjang jalan menuju sekolah, ia bercengkrama ria bersama Dayat, teman satu kelasnya.  Bersekolah di sana adalah impiannya sejak dulu, karena memang sekolah ini adalah sekolah unggulan yang berbasis agama.  Baginya ilmu tanpa agama bagaikan orang yang buta.  Jadi, menurut Anas, selain ia harus belajar ilmu umum, ia juga harus belajar ilmu agama. Itu merupakan satu kesatuan yang tak terpisahkan.
            Gerbang sekolah sudah mulai terlihat.  Itu tandanya Anas dan Dayat telah sampai di sekolahnya.  Mereka segera memarkir sepeda mereka.  Mereka menyusuri lorong sekolah.  Ada yang membuat mata Anas tertarik, hingga membuat Anas berhenti sekejap.  LOMBA KARYA SASTRA (CERPEN).  Matanya langsung terbelalak memperhatikan tulisannya.  Diperhatikan secara detail dari mulai syarat-syarat hingga waktu perlombaan.  Ia termasuk anak yang pandai dalam bidang tulis-menulis.  Tak jarang tulisannya dimuat di media cetak maupun media online.  Walaupun ia berasal dari keluarga yang sederhana, tapi ia tetap tampil percaya diri dengan kemampuan yang dimilikinya.  Baginya menulis adalah bagian dalam hidupnya.  Seperti prinsip Anas “Menulislah sebelum namamu tertulis di batu nisan”, karena menurut Anas tanpa seseorang menulis, pasti seseorang itu akan hilang dari peradaban atau sejarah. 
“Aku harus ikut lomba ini, aku ‘kan buktikan aku mampu membawa trofi untuk senyuman ibuku”, batin Anas.
“Dorrrrr, jangan bengong nas.  Nanti kesambet loh, (tepuk Dayat)”.
“ Hee, iya.  Ini lagi baca yat, kamu mau ikut?, Tanya Anas.
“Wakil kamu aja nas, ledek Dayat.
Tet…tet…tet. Bel berbunyi menandakan jam pelajaran siap dimulai.  Anak-anak berlarian memasuki ruangan kelas, termasuk Anas dan Dayat. 

***
Ditemani segelas kopi, Anas duduk santai di halaman rumahnya. Menatap hijaunya pepohonan  yang rimbun.  Menari-nari terkena terpaan dinginnya angin.  Anas telah mengikuti lomba cerpen, sesuai niatnya.  Ia masih menunggu-nunggu hasil perlombaan itu.  Hatinya berdebar-debar cemas akan hasil yang akan ia peroleh.  Ia berharap mampu membuat kedua orang tuanya tersenyum, terutama ibu.  Ia takut, hasilnya akan mengecewakan.  Akan tetapi, itu tidak akan membuatnya patah semangat, karena baginya proses adalah yang utama, BUKAN HASIL.  Mengikuti ini juga merupakan pengalaman hebat yang aku ikuti, ucapnya, seranya menenangkan hatinya jikalau hasilnya tak sesuai keinginannya.
            Hari di mana akan diumumkan siapakah pemenangnya telah tiba.  Akan tetapi, Anas tidak mau melihat pengumumannya.  Ia belum siap, akan hasil yang akan dicapainya.  Ia hanya diam di dalam kamar, seraya berdoa yang terbaik untuknya.
“Tok…tok…tok, assalamualaikum, (ketuk pintu dari luar).
“Waalaikumsalam, jawab ibu Anas
“Cari siapa mas”, tanya ibu.
“Apakah benar ini rumah saudara Anas? Tanya seseorang berseragam tukang pos.
“Iya benar, saya ibunya.  Ada apa pak? Tanya ibu penasaran.
“Ini Cuma mengantar paket, jawab tukang pos tadi.
“Paket apa pak? (Ibu semakin pemasaran).
“Tidak tahu, saya hanya mengantar paket sesuai alamat, karena itu, tugas saya.  Terima kasih bu”, pamit tukang pos.
“Anaaaaaaaaaaaaas”, teriak ibu.
“Iya bu, ada apa, ko teriak-teriak sih?” Tanya Anas.
“Ini ada paket, katanya buat kamu.  Coba dibuka, ibu penasaran ini”, jawab ibu.
Paketnya pun dibuka oleh Anas.  Secara perlahan ia mulai membukanya.  Ternyata di dalamnya terdapat trofi dan pigam penghargaan lomba cerpen.  Tertera nama ANAS AHLU RIDLO sebagai JUARA I.  Anas terdiam sekejam, lalu ia memeluk ibu dengan eratnya dan berkata ”Ibu, aku menang. Aku mengikuti lomba cerpen dan ini hadiahnya, aku persembahkan untuk ibu”.
“Ibu bangga anakku, bisik ibu.

Comments

Post a Comment

Popular posts from this blog

CONTOH SK PENGEMBANG KURIKULUM DAN NOTULEN

URGENSI MANAJEMEN SUMBER DAYA MANUSIA DALAM ORGANISASI

SOAL UP PENDIDIKAN PROFESI GURU (PPG)