Makalah Kepemimpinan Instruksional
BAB I
PENDAHULUAN
1.
Latar
Belakang
Awal
pendidikan Islam bermula dari tempat yang sangat sederhana, yaitu serambi
masjid yang disebut al-Suffah. Namun, walaupun hanya dari serambi masjid,
tetapi mampu menghasilkan ilmu-ilmu agama yang bisa dirasakan sampai sekarang.
Tidak hanya itu, dari serambi masjid ini pula mampu mencetak ulama’ yang sangat
dalam keilmuannya dimana pengaruhnya sangat besar sekali bagi peradaban Islam,
bahkan juga mampu mempengaruhi peradaban-peradaban lain.
Sudah
barang tentu, “pendidikan” menjadi syarat utama dalam membangun sebuah
peradaban yang besar. Oleh sebab itu, pendidikan merupakan tema yang tidak
pernah sepi dan selalu manarik perhatian banyak kalangan. Sehingga, tarik-ulur
konsep yang ideal pun selalu mewarnai dalam sejarah perjalanan pendidikan.
Begitu pun yang terjadi dalam dunia Islam.
Namun,
sungguh disayangkan bahwa dalam perkembangannya, kondisi sebagaimana diawal
pendidikan Islam terdahulu sudah kurang terasa lagi dari institusi pendidikan
Islam yang ada sekarang. Sebagaimana sebuah obor, maka obor tersebut terasa
hampir padam. Agar obor tersebut tidak padam dan terus menyala, maka pendidikan
Islam seperti yang telah diwariskan oleh ulama’ terdahulu harus dihidupkan
kembali.
Menengok
dan membaca pada proses pendidikan Islam pada masa lampau sehingga bisa
mencetak kader ulama’ yang sangat berpengaruh terhadap peradaban dunia
tersebut, dapat kita garis bawahi hal tersebut tidak terlepas dari manjemen
pendidikan islam. Di sinilah tulisan makalah ini hadir untuk mengeksplor konsep
dari dua hal: yaitu kepemimpian instruksioanl dan implementasinya dalam
pendidikan islam
Dalam
kaidah ushuuliyyah dinyatakan bahwa : الامور بمقاصدها, bahwa setiap perkara itu nilainya menyesuaikan dengan
tujuannya visi misi. Oleh karena itu, tindakan dan aktivitas harus berorientasi
pada tujuan atau rencana yang telah ditetapkan. Kaidah ini menunjukan bahwa
pendidikan seharusnya berorientasi pada tujuan visi misi yang ingin dicapai, bukan semata-mata
berorientasi pada formalitas belaka. Karena itulah, manajemen yang berorentasi
pada tujuan visi misi pendidikan Islam menjadi komponen pendidikan yang harus
dirumuskan terlebih dahulu sebelum merumuskan kompenen-kompenen pendidikan yang
lain.
2.
Tujuan
Penulisan
Tujuan
merupakan standar usaha yang dapat ditentukan, serta mengarahkan usaha yang
akan dilalui dan merupakan titik pangkal untuk mencapai tujuan-tujuan lain.
Disamping itu, tujuan dapat membatasi ruang gerak usaha, agar kegitan dapat
terfokus pada apa yang dicita-citakan, dan yang terpenting lagi adalah dapat
memberi penilaian atau evaluasi pada usaha-usaha pendidikan.
Adapun tujuan penyusunan makalah
ini selain untuk menyelesikan tugas mata kuliah Manajemen Pendidikan Islam
adalah untuk memberikan konsep tentang kepemimpinan instruksional dalam
implementasinya dalam pendidikan islam yaitu antara lain :
a.
Bagimana
konsep kepemimpinan ?
b.
Bagimana
konsep kepemimpinan instruksional?
c.
Bagimana keterkaitan
antara kepemimpinan instruksional dengan pendidikan islam?
d.
Bagimana
upaya implementasi kepemimpinan intruksional dalam pendidikan islam?
Semua pertanyaan di atas akan
penulis jawab melalui makalah ini.
BAB II
KEPEMIMPINAN INSTRUKSIONAL DAN IMPLEMENTASINYA DALAM PENDIDIKAN ISLAM
1.
Pengertian Kepemimpinan
Kepemimpinan tidak dapat dipisahkan dengan kata
pemimpin. Pemimpin diidentikkan dengan leader dalam Bahasa Inggris.
Kepemimpinan berasal dari akar kata to lead yang berarti pemimpin.
Sedangkan kegiatannya disebut kepemimpinan atau leadership. Dalam kata
kerja to lead tersebut terkandung dalam beberapa makna yang saling
berhubungan erat yaitu, bergerak lebih cepat, berjalan ke depan, mengambil
langkah petama, berbuat paling dulu, mempelopori, mengarahkan pikiran atau
pendapat orang lain, membimbing, menuntun menggerakkan orang lain lebih awal,
berjalan lebih depan, mengambil langkah pertama, berbuat paling dulu,
mempelopori suatu tindakan, mengarahkan pikiran atau pendapat, menuntun dan
menggerakkan orang lain melalui pengaruhnya. (Nurdin, 2015: 64).
Bush
(2008) menyatakan bahwa pemimpin adalah orang yang menentukan tujuan-tujuan,
memotivasi, dan menindak bawahannya. Pemimpin adalah orang yang memimpin,
memberdayakan guru dan te-naga administrasi sekolah, mewakili sekolah,
mengarahkan, memotivasi, dan menginspirasi bawahannya.
Kepemimpinan
merupakan hal-hal yang dilakukan oleh seorang pemimpin dalam rangka menjalankan
tugasnya. Kepemimpinan akan menjadikan suatu organisasi dapat bergerak secara
terarah dalam upaya mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Konsep kepemimpinan
dikatakan oleh Bernard Bass (1990) dalam Pierce dan Newstrom (2006:3):
Pendekatan-pendekatan tersebut
menjelaskan bahwa konsep kepemimpinan berkaitan dengan :(1) proses yang berfokus pada
kelompok; (2) memuat ciri personal; (3) seni yang mendorong hadirnya sebuah
kepatuhan; (4) menggunakan pengaruh; (5) sebagai alat untuk mencapai tujuan;
(6) sebagi bentuk bujukan; (7) sebagai hubungan kekuasaan;(8)sebagai proses
interaksi; (9) sebagai peran yang
dibedakan; dan (10) sebagai pengawalan struktur. Beberapa pandangan
ahli mengenai definisi
kepemimpinan mengindikasikan adanya kesamaan konsep. Menurut Bass,
kepemimpinan adalah interaksi antara
dua orang atau lebih dalam
sebuah grup yang melibatkan penataan atau restrukturisasi situasi, persepsi
dan harapan dari anggotanya.
Menurut
Chemers kepemimpinan adalah proses dalam hubungan sosial antara satu orang
untuk meminta bantuan atau dukungan orang lain dalam pemenuhan tugas bersama.
Pandangan dari dua tokoh di atas telah memiliki kesamaam yakni kepemimpinan
berkaitan dengan grup sosial serta melibatkan dua orang atau lebih.
Robbin
(2003: 40) menyatakan bahwa kepemimpinan sebagai kemampuan untuk mempengaruhi
suatu kelompok kearah tercapainya tujuan. Locke (1997: 3) menuliskan bahwa kepemimpinan
adalah proses membujuk (inducting) orang lain untuk mengambil langkah menuju
suatu sasaran bersama.
Secara
garis besar merujuk pada pendapat-pendapat di atas, kepemimpinan memiliki
konsep yang berkaitan dengan: (1) interaksi antara dua orang atau lebih; (2)
penstrukturan situasi, persepsi dan harapan orang yang dipimpin (anggota
kelompok); (3) memiliki pengaruh sosial untuk mendapat dukungan/bantuan dalam
penyelesaian tugas; (4) proses mempengaruhi interpersonal untuk memotivasi
bawahan; (5) proses untuk membujuk orang lain; (6) Proses memfasilitasi orang
lain dalam upaya kolektif mencapai tujuan bersama.
2.
Pengertian
Kepemimpian Instruksional
Kepemimpinan memiliki banyak gaya dan tipe. Gaya
kepemimpinan adalah cara pemimpin menggunakan pengaruhnya terhadap bawahan.
Gaya kempimpinan yang telah dikenal adalah demokratis, berorientasi orang,
telling, dan otoritas. Sedangkan tipe kepemimpinan menunjukkan pada fokus yang
ingin dipengaruhi. Kepemimpinan di sebuah madrasah dipegang oleh Kepala
madrasah. Berkaitan dengan kepemimpinan kepala madrasah pada tahun 1980-an
muncul istilah kepemimpinan dalam bidang pendidikan yakni kepemimpinan
intstruksional.
Kepemimpinan
instrusksional merupakan kepemimpinan yang fokus kepada penentuan visi, misi
dan tujuan sekolah, mengelola, mengatur, mengkoordinasikan kurikulum,
meningkatkan pembelajaran bermutu, serta hal-hal lain yang berkaitan dengan
pembelajaran, serta mengkondisikan iklim pembelajaran agar menjadi kondusif
sehingga dapat memperkuat budaya sekolah (Suharsaputra, 2016: 156).
Kepemimpinan
instruksional menekankan pada pembelajaran sebagai aktivitas yang utama di
sekolah. Pandangan ini mengacu pada pernyataan Bush dan Glover (2002: 103).
Kepemimpinan
instruksional berfokus pada pengajaran dan pembelajaran serta perilaku guru
dalam bekerja dengan peserta didik. Target kepemimpinan adalah pada kegiatan
belajar peserta didik melalui guru. Penekanannya adalah pada arah dan dampak
proses pengaruh itu sendiri.
Kepemimpinan
instruksional menekankan pada belajar dan pembelajaran sebagai aktivitas utama
dalam organisasi sekolah. Kondisi kepemimpinan seperti ini karena memandang
bahwa sekolah adalah tempat untuk melaksanakan pembelajaran. Tanpa ada alasan
pembelajaran, maka keberadaan sebuah sekolah pasti hilang.
Daresh dan
Playco (1995) dalam Suharsaputra (2016: 220) mendefinikan kepemimpinan
pembelajaran sebagai upaya memimpin para guru agar mengajar lebih baik, yang
pada gilirannya dapat memperbaiki prestasi belajar peserta didiknya. Definisi
ini kurang komprehensif, karena hanya memfokuskan pada guru. Ahli lain,
Petterson (1993: 133), mendefinisikan kepemimpinan pembelajaran yang efektif
sebagai berikut:
1) Kepala madrasah mensosialisasikan dan menanamkan isi dan makna visi
sekolahnya dengan baik. Dia juga mampu membangun kebiasaan-kebiasaan berbagi
pendapat atau urun rembug dalam merumuskan visi dan misi sekolahnya, dan dia
selalu menjaga agar visi dan misi sekolah yang telah disepakati oleh warga
sekolah hidup subur dalam implementasinya;
2) Kepala madrasah melibatkan para pemangku kepentingan dalam
pengelolaan sekolah (manajemen partisipatif). Kepala madrasah melibatkan para
pemangku kepentingan dalam pengambilan keputusan dan dalam kegiatan operasional
sekolah sesuai dengan kemampuan dan batas-batas aturan yang berlaku.
3) Kepala madrasah memberikan dukungan terhadap pembelajaran, misalnya
dia mendukung bahwa pengajaran yang memfokuskan pada kepentingan belajar
peserta didik harus menjadi prioritas.
4) Kepala madrasah melakukan pemantauan terhadap proses belajar
mengajar sehingga memahami lebih mendalam dan menyadari apa yang sedang
berlangsung di dalam sekolah.
5) Kepala madrasah berperan sebagai fasilitator sehingga dengan
berbagai cara dia dapat mengetahui kesulitan pembelajaran dan dapat membantu
guru dalam mengatasi kesulitan belajar tersebut.
Definisi inipun
masih terlalu umum
karena pembelajaran mencakup
banyak hal yang sebagian belum tercakup di dalamnya. Kementerian Pendidikan
Nasional Republik Indonesia (2011: 1-7) mengemukakan bahwa kepemimpinan
instruksional merupakan salah satu kemampuan yang harus dimiliki oleh seorang
kepala madrasah. Kepemimpinan instruksional sangat penting untuk diterapkan di
sekolah karena dapat: (1) meningkatkan prestasi belajar peserta didik secara
signifikan; (2) memberikan dorongan dan arahan terhadap warga sekolah untuk
meningkatkan prestasi belajar peserta didiknya; (3) memfokuskan
kegiatan-kegiatan warganya untuk menuju pencapaian visi, misi, dan tujuan
sekolah; dan (4) membangun komunitas belajar warganya dan menjadikan sekolahnya
sebagai sekolah belajar.
Tujuan
utama kepemimpinan instruksional adalah memberikan layanan prima kepada semua
peserta didik agar mereka mampu mengembangkan potensinya untuk menghadapi masa
depan yang sarat dengan tantangan. Model Hallinger dan Murphy dalam Kementerian
Pendidikan Nasional (2011: 8) menjelaskan deskriptor kepemimpinan pembelajaran
terdiri dari: (1) merumuskan tujuan sekolah; (2) mengkomunikasikan tujuan
sekolah; (3) mensupervisi dan mengevaluasi pembelajaran; (4) mengkoordinasikan
kurikulum; (5) memonitor kemajuan pembelajaran peserta didik; (6) mengkontrol
alokasi waktu pembelajaran; (7) memfokuskan pencapaian visi; (8) menyediakan
insentif bagi guru; (9) menetapkan stándar akademi; dan (10) memberikan
insentif bagi peserta didik.
Selanjutnya,
Model Weber (1996: 64) menjelaskan lima domain utama kepemimpinan pembelajaran,
yaitu: (1) merumuskan misi sekolah; (2) mengelola kurikulum dan pembelajaran;
(3) mendorong terciptanya iklim belajar yang kondusif; (4) mengobservasi dan
memperbaiki pembelajaran; dan (5) melakukan penilaian program pembelajaran.
Kepala
madrasah bertugas mengarahkan dalam kegiatan pembelajaran, sedangkan guru
adalah pelaksanan langsung dalam pembelajaran. guru menyusun strategi dan desain
dalam pembelajaran, sejalan dengan arahan dari kepala madrasah. Pembelajaran
yang didesain oleh guru haruslah efektif dan efisien, sehingga tujuan
pembelajaran akan diterima denga baik oleh peserta didik dan tujuan nasional
pendidikan dapat tercapai dengan baik (Rohmat, 2017: 40).
Desain
pembelajaran yang disusun oleh guru disesuaikan dengan arahan dari kepala
madrasah sebagai bentuk nyata dalam kepemiminan instruksional. Desain
pembelajaran ini berfungsi untuk meningkatkan kemampuan pembelajaran, menghasilkan
sumber belajar, mengembangkan sistem belajar mengajar, memberi sentuhan
perilaku organisasi belajar, menjadi organisasi belajar, sebagai petujuk arah
kegiatan dalam mencapai tujuan, serta sebagai pola dasar dalam mengatur tugas
dan wewenang bagi setiap unsur yang terlibat dalam kegiatan pembelajaran
(Rohmat, 2017: 41).
Dengan
demikian dapat disimpulkan bahwa kepemimpinan instruksional kepala madrasah
adalah tindakan kepala madrasah mempengaruhi orang lain untuk bertindak sesuai
dengan yang diharapkan guna mencapai tujuan pembelajaran dengan indikator
merumuskan tujuan sekolah, mengkomunikasikan tujuan sekolah, mensupervisi dan
mengevaluasi pembelajaran, mengkoordinasikan kurikulum, memonitor kemajuan
pembelajaran peserta didik, mengkontrol alokasi waktu pembelajaran, memfokuskan
pencapaian visi, menyediakan insentif bagi guru, menetapkan stándar akademi;
dan memberikan insentif bagi peserta didik.
3.
Pengertian
Pendidikan
Dari segi bahasa pendidikan dapat diartikan perbuatan (hal, cara dan
sebagainya) mendidik, dan berarti pula pengetahuan tentang mendidik, atau
pemeliharaan badan, batin, dan sebagainya. Adapun menurut istilah adalah usaha
sadar untuk menyiapkan peserta didik melalui kegiatan bimbingan, pengajaran
atau latihan bagi peranannya di masa yang akan mendatang. Dalam bahsa arab,
para pakar pendidikan pada umumnya menggunakan kata tarbiyah untuk
arti pendidikan. Seperti Ahmad Fuad al-Ahwani, Ali Kholil Abu al-Ainain,
Muhammad Athiyah al- Abrasyi dan Muhammad Munir Mursyi misalnya
menggunakan kata tarbiyah untuk arti pendidikan.
Dari dua definisi tersebut dapat diketahui bahwa pendidikan adalah
merupakan usaha atau proses yang ditujukan untuk membina kualitas sumber daya
manusia seutuhnya agar ia dapat melakukan perannya dalam kehidupan secara
fungsional dan optimal. Ki Hajar Dewantoro mengatakan bahwa “pendidikan
berarti daya upaya untuk memajukan pertumbuhan budi pekerti (kekuatan batin,
karakter), pikiran (intelect) dan tubuh anak diantara satu dan lainnya saling
berhubungan agar dapat memajukan kesempurnaan hidup, kehidupan dan penghidupan
anak-anak yang kita didik selaras dengan dunianya”.
4. Pendidikan Sebagai Proses
Pendidikan secara historis-oprasional telah dilaksanakan sejak adanya
manusia pertama dimuka bumi ini, yaitu sejak Nabi Adam AS yang dalam al-Quran
dinyatakan bahwa proses pendidikaan itu terjadi pada saat Nabi Adam AS
berdialog dengan Tuhan. Dialog tersebut muncul karena ada motivasi dalam diri
Nabi Adam AS untuk menggapai kehidupan yang sejahtera dan bahagia. Dialog
tersebut didasarkan pada motivasi individu yang selalu ingin berkembang sesuai
dengan kondisi dan konteks lingkungannya. Dialog merupakan bagian dari proses
pendidikan dan ia membutuhakan lingkungan yang kondusif dan strategi yang
memungkinkan peserta didik bebas berapresiasi dan tidak takut salah, tetapi
tetap beradab dan mengedepankan etika.
Dalam rangka mempersiapkan pendidikan yang maju, maka perlu diawali dengan
menetapkan dasar filosofi yang mantap dan ditunjang oleh seperangkat teori dan
konsep kependidikan yang memadai. Sebab, proses pendidikan yang dilaksanakan
senantiasa didasarkan atas suatu keyakinan tertentu, yaitu suatu pandangan atau
pemikiran yang bersifat idealis-filosofis- teoretis.
Interaksi individu dan kelompok sosial dengan individu dan kelompok lain
telah menciptakan dinamika pemikiran dan budaya tertentu, termasuk dasar
filosofi kependidikannya sehingga pendidikan akan selalu bergerak dinamis
mengikuti perkembangan masyarakatnya. Gambaran tentang nilai dinamis dari
pendidikan sebagai suatu proses yang tiada henti dapat dilihat dari beberapa
definisi mengenai pendidikan Islam.
Muhammad Hamid an-Nashir dan Kulah Abd al-Qadir Darwis, misalnya,
mendefinisikan pendidikan Islam sebagai proses pengarahan perkembangan manusia
(ri’ayah) pada sisi jasmani, akal, bahasa, tingkah laku, dan kehidupan
sosial dan keagamaan yang diarahkan pada kebaikan menuju kesempurnaan.
Sementara itu, Omar Muhammad at-Toumi asy-Syaibani sebagaimana disitir oleh M.
Arifin, menyatakan bahwa pendidikan Islam adalah usaha mengubah tingkah laku
individu dalam kehidupan pribadi atau kehidupan kemasyarakatan dan kehidupan
dialam sekitarnya.
5. Hakikat Pendidikan Islam
Pendidikan Islam pada hakikatnya adalah proses perubahan yang menuju kearah
positif. Dalam konteks sejarah, perubahan yang positif ini adalah jalan Tuhan
yang telah dilaksanakan sejak zaman Nabi Muhammad SAW. Pendidikan Islam dalam
konteks perubahan kearah yang positif ini identik dengan kegiatan dakwah yang
biasanya dipahami sebagai upaya untuk menyampaikan ajaran Islam kepada
masyarakat. Sejak wahyu pertama diturunkan yaitu surat
Al-Alaq ayat 1-5:
Pendidikan Islam praksis telah lahir, berkembang dan eksis dalam kehidupan umat
Islam, yakni sebuah proses pendidikan yang melibatkan dan menghadirkan Tuhan.
Membaca sebagai sebuah proses pendidikan dilakukan dengan menyebut nama Tuhan
Yang Menciptakan.
Keterkaitan pendidikan dengan Tuhan ini secara profetik dipandu oleh kitab
suci Al-Quran. Nabi sebagai utusan Alloh memiliki tugas utama menyampaikan
wahyu kepada umat manusia secara berangsur-angsur sesuai dengan konteksnya.
Proses pewahyuan yang berangsur-angsur ini, selain dimaksudkan untuk menjaga
agar hidup manusia tidak terlepas dari bimbingan Tuhan, juga menunjukan bahwa
wahyu selalu berdialog dengan lingkungan dan alam manusia. Pada saat
menyampaikan wahyu, maka hal itu juga berarti beliau menyampaikan ilmu dan
kebenaran pada umat manusia. Ia merasa senang dan gembira terhadap ilmu
sehingga wahyu yang diterimanya kemudian digunakan untuk menggalakan pendidikan
bagi pengikut-pengikutnya. Nabi juga melakukan kampanye bahwa orang yang
mengajar orang lain akan mendapat pahala besar. Orang yang beriman dan berilmu
juga akan mendapatakn derajat yang tinggi dan mulia. Pada hakikatnya,
pelaksanaan pendidikan Islam pada awal kebangkitannya digerakan oleh iman
dan komitmen yang tinggi terhadap ajaran agamanya.
Sabda RasulullaH SAW[7] yang diriwayatkan dari Sahabat Abi
Mas’ud al-Anshari RA: من دل على خيرٍ
فله مِثل أجرِ فاعِلِه
Oleh karena itu, esensi pendidikan Islam pada hakikatnya terletak pada
kriteria iman dan komitmennya terhadap ajaran agama Islam. Hal ini
sejalan dan senada dengan definisi pendidikan Islam yang disajikan oleh Ahmad
D. Marimba. Ia menyatakan bahwa “Pendidikan Islam adalah bimbingan jasmani dan
rohani berdasarkan hukum-hukum ajaran Islam menuju terbentuknya kepribadian
utama menurut ukuran-ukuran Islam,” yaitu kepribadian muslim. Definisi tersebut
minimal memuat tiga unsur yang mendukung pelaksanaan pendidikan Islam, diantaranya:
a) Usaha berupa bimbingan bagi pengembangan potensi jasmaniah dan rohaniah
secara seimbang.
b) Usaha tersebut didasarkan atas ajaran Islam, yang bersumber dari al-Quran,
as-Sunnah, dan ijtihad.
c) Usaha tersebut diarahkan pada upaya untuk membentuk dan mencapai
kepribadian muslim, yaitu kepribadian yang didalamnya tertanam nilai-nilai
Islam. Jika nilai Islam itu telah tertanam dengan baik, maka peserta didik akan
mampu meraih derajat “insan kamil” yakni manusia paripurna-manusia
ideal.
Seiring dengan sisi penting akhlak dan kepribadian mulia sebagai inti
pendidikan, maka pendidikan Islam sebagaimana dinyatakan oleh Syed Ali Ashraf
dan Syed Sajjad Hussain juga dapat dipahami sebagai:
“ Suatu pendidikan yang melatih jiwa murid-murid dengan cara sebegitu rupa
sehingga dalam sikap hidup, tindakan, keputusan dan pendekatan mereka terhadap
segala jenis ilmu pengetahuan, mereka dipengaruhi oleh nilai-nilai spiritual
dan sangat sadar akan nilai etis Islam. Mereka dilatih, dan mentalnya menjadi
begitu berdisiplin sehingga mereka ingin mendapatkan ilmu pengetahuan bukan
semata-mata untuk memuaskan rasa ingin tahu intelektual mereka atau hanya untuk
memperoleh keuntungan materiil saja, melainkan untuk berkembang sebagai makhluk
rasional yang berbudi luhur dan melahirkan kesejahteraan spiritual, moral, dan
fisik bagi keluarga, bangsa, dan seluruh umat manusia ”.
Dari apa yang dinyatakan di atas, maka pendidikan Islam pada
hakikatnya menekankan tiga hal, yaitu :
a) Suatu upaya pendidikan dengan menggunakan metode-metode tertentu, khususnya
metode pelatihan untuk mencapai kedisiplinan mental peserta didik.
b) Bahan pendidikan yang diberikan kepada anak didik merupakan bahan
materiil, yakni berbagai jenis ilmu pengetahuan dan spiritual, yakni sikap
hidup dan pandangan hidup yang dilandasi nilai etis Islam
c) Tujuan pendidikan yang ingin dicapai adalah mengembangkan manusia yang
rasional dan berbudi luhur, serta mencapai kesejahteraan masyarakat yang adil
dan makmur dalam rengkuhan ridlo Alloh SWT.
6. Ruang Lingkup Pendidikan Islam
Dengan mengacu pada pendapat Zakiah Daradjah dan Noeng Muhadjir,[12] konsep pendidikan Islam mencakup
kehidupan manusia seutuhnya, tidak hanya memperhatikan dan mementingkan segi akidah
(keyakinan), ibadah (ritual), dan akhlak (norma-etika) saja,
tetapi jauh lebih luas dan dalam dari semua itu. Para pendidik Islam pada
umumnya memiliki pandangan yang sama bahwa pendidikan Islam mencakup berbagai
bidang :
a) Keagamaan
b) Akidah dan amaliah
c) Akhlak dan budi pekerti
d) Fisik-biologis, eksak, mental-psikis dan kesehatan.
Dari sisi akhlak, pendidikan Islam harus dikembangkan dengan didukung oleh
ilmu-ilmu lain yang terkait. Dari penjelasan tersebut, maka dapat dinyatakan
bahwa ruang lingkup pendidikan Islam meliputi:
a) Setiap proses perubahan menuju
kearah kemajuan dan perkembangan berdasarkan ruh ajaran
Islam
b) Perpaduan antara pendidikan jasmani, akal (intelektual), mental, perasaan
(emosi) dan rohani (spiritual)
c) Keseimbangan antara jasmani-rohani, keimanan-ketakwaan, pikir-dzikir,
ilmiah-amaliah, materiil-spirituil, individual-sosial, dan dunia-akhirat.
d) Realisasi dwi fungsi manusia, yaitu fungsi peribadatan sebagai hamba Alloh
(‘Abdulloh) untuk menghambakan diri semata-mata kepada Alloh dan fungsi
kekhalifahan sebagai khalifah Alloh (khalifatulloh) yang diberi tugas untuk
menguasai, memelihara, memanfaatkan, melestarikan dan memakmurkan alam semesta
(rahmatan lil’alamin). Firman Allah surat Al-Baqarah ayat 30 :
7. Tujuaan Pendidikan Islam Menurut Para Ahli
Para ahli pendidikan telah memberikan defiinisi tentang tujuan pendidikan
Islam, dimana rumusan atau definisi yang satu berbeda dari definisi yang lain.
Meskipun demikian, pada hakikatnya rumusan dari tujuan pendidikan Islam adalah
sama, mungkin hanya redaksi dan penekanannya saja yang berbeda. Berikut ini
adalah definisi pendidikan Islam yang dikemukakan para ahli:
a.
Naquib al-Attas menyatakan bahwa tujuan
pendidikan yang penting harus diambil dari pandangan hidup (philosophy of
life). Jika pandangan hidup itu Islam, maka tujuannya adalah membentuk
manusia sempurna (insan kamil) menurut Islam.
b.
Abd ar-Rahman Saleh abdulloh,
mengungkapkan bahwa tujuan pokok pendidikan Islam mencakup tujuan jasmaniyah,
tujuan rohaniyah, dan tujuan mental. Saleh Abdullah telah mengklasifikasikan
tujuan pendidikan kedalam tiga bidang, yaitu fisik-materiil, ruhani-spiritual,
dan mental-emosional. Ketiga-tiganya harus diarahkan menuju pada kesempurnaan.
Ketiga tujuan ini tentu saja harus dalam satu kesatuan (integratif) yang tidak
terpisah-pisah.
c.
Muhammad Athiyah al-Abrasyi[18] merumuskan tujuan pendidikan Islam
secara lebih rinci. Dia menyatakan bahwa tujuan pendidikan Islam adalah untuk
membentuk akhlak mulia, persiapan menghadapi kehidupan dunia-akhirat, persiapan
untuk mencari rizki, menambahkan subjek didik. Dari lima rincian tujuan
pendidikan tersebut, semuanya harus menuju titik kesempurnaan yang salah satu
indikatornya adalah adanya nilai tambah secara kuantitatif dan kualitatif.
d.
Ahmad Fuad al-Ahwani menyatakan
bahwa pendidikan Islam adalah perpaduan yang menyatu antara pendidikan jiwa,
membersihkan ruh, mencerdaskan akal, dan menguatkan jasmani. Disini, yang
menjadi bidikan dan fokus dari pendidikan Islam yang dikemukakan oleh Fuad
al-Ahwani adalah soal keterpaduan. Hal tersebut bisa dimengerti karena
keterbelahan atau disentegrasi tidak menjadi watak dari Islam.
e.
Abd ar-Rahman an-Nahlawi berpendapat bahwa
tujuan pendidikan islam adalah mengembangkan pkiran manusia dan mengatur
tingkah laku serta perasaan mereka berdasarkan Islam dalam proses akhirnya
bertujuan untuk merealisasikan ketaatan dan penghambaan kepada Allah didalam
kehidupan manusia, baik indiviidu maupun masyarakat. Definisi tujuan pendidikan
ini lebih menekankan pada kepasrahan kepada Tuhan yang menyatu dalam diri
secara individual maupun sosial.
f.
Abdul Fatah Jalal menyatakan bahwa
tujuan pendidikan Islam adalah mewujudkan manusia yang mampu beribadah
kepada-NYA, baik dengan pikiran, amal maupun dengan perasaan.
g.
Umar Muhammad at-Toumi asy-Syaibani
mengemukakan bahwa tujuan tertinggi dari pendidikan Islam adalah persiapan
untuk kehidupan dunia dan akhirat. Bagi asy-Syaibani, tujuan pendidikan Islam
adalah untuk memproses manusia yang siap untuk berbuat dan memakai fasilitas
dunia ini guna beribadah kepada Allah, bukan manusia yang siap pakai dalam arti
siap dipakai oleh lembaga, pabrik, atau yang alainnya. Jika yang terakhir ini
yang dijadikan tujuan dan orientasi pendidikan, maka pendidikan hanya ditujukan
sebagai alat produksi tenaga kerja dan memperlakukan manusia bagaikan mesin
robot. Pendidikan seperti ini tidak akan mampu mencetak manusia terampil dan
kreatif yang memiliki kebebasan dan kehormatan.
h.
Ali Khalil Abu al-Ainaini
mengemukakan bahwa hakikat pendidikan Islam adalah perpaduan antar
pendidikan jasmani, akal, akidah, akhlak, perasaan, keindahan, dan
kemasyarakatan. Adanya nilai keindahan atau seni yang dimasukkan oleh al-Ainaini
dalam tujuan pendidikan agak berbeda dengan definisi yang dikemukakan oleh para
ahlinya. Keindahan dan seni memang harus dieksplisitkan karena kesempurnaan
secara riil pada akhirnya ada pada seni. Jika sesuatu tersebut telah menyentuh
wilayah seni, maka kesempurnaan dan keindahahn dari sesuatu tersebut sudah riil
dan menjadi bagian darinya.
8. Prinsip-Prinsip Pendidikan Islam
Tujuan pendidikan sesungguhnya tidak terlepas dari prinsip-prinsip
pendidikan yang bersumber dari nilai-nilai al-Qur’an dan as-Sunnah. Dalam hal
ini, paling tidak ada lima prinsip dalam pendidikan Islam. Kelima prinsip
tersebut adalah:
a)
Prinsip integrasi (Tauhid).
Prinsip ini memandang adanya wujud kesatuan dunia-akhirat. Oleh karena itu,
pendidikan meletakkan porsi yang seimbang untuk mencapai kebahagiaan didunia
sekaligus diakhirat.
b)
Prinsip keseimbangan. Prinsip ini
merupakan konsekuensi dari prinsip integrasi. Keseimbangan yang proporsional
antara muatan rohaniah dan jasmaniah, antara ilmu murni dan ilmu
terapan, antara teori dan praktik dan antara nilai yang menyangkut aqidah,
syari’ah dan akhlak.
c)
Prinsip persamaan dan pembebasan.
Prinsip ini dikembangkan dari nilai tauhid, bahwa Tuhan adalah Esa. Oleh karena
itu, setiap individu dan bahkan semua makhluk hidup diciptakan oleh pencipta
yang sama (Allah). Perbedaan hanyalah unsur untuk memperkuat persatuan.
Pendidikan adalah satu upaya untuk membebaskan manusia dari belenggu nafsu
dunia menuju pada nilai tauhid yang bersih dan mulia. Manusia dengan pendidikan
diharapkan bisa terbebas dari belenggu kebodohan, kemiskinan, kejumudan, dan
nafsu hayawaniah-nya sendiri.
d)
Prinsip kontinuitas dan
berkelanjutan (istiqomah). Dari prinsip inilah dikenal konsep pendidikan
seumur hidup (life long education) sebab didalam Islam, belajar adalah
satu kewajiban yang tidak pernah dan tidak boleh berakhir. Seruan membaca yang
ada dalam al-Qur’an merupakan perintah yang tidak mengenal batas waktu. Dengan
menuntut ilmu secara kontinu dan terus menerus, diharapkan akan muncul
kesadaran pada diri manusia akan diri dan lingkungannya, dan yang lebih penting
tentu saja adalah kesadaran akan Tuhannya. Firman ALLAH SWT surat Adz-Dzariyat
ayat 56 :
e)
Prinsip kemaslahatan dan keutamaan.
Jika ruh tauihid telah berkembang dalam sistem moral dan akhlak seseorang
dengan kebersihan hati dan kepercayaan yang jauh dari kotoran, maka ia akan
memiliki daya juang untuk membela hal-hal yang maslahat atau berguna bagi
kehidupan. Sebab nilai tauhid hanya bisa dirasakan apabila ia telah
dimanifestasikan dalam gerak langkah manusia untuk kemaslahatan, keutamaan
manusia itu sendiri.
Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa prisip pendidikan Islam identik dengan
prinsip hidup setiap muslim, yakni beriman, bertakwa, berakhlak mulia,
berkepribadian muslim, insan shaleh guna mengemban amanat Allah sebagai
khalifah dimuka bumi dan beribadat kepada Tuhan untuk mencapai ridla-NYA.
Seperti yang telah difirmankan Allah SWT surat
Al-Baqarah ayat 30 :
BAB III
SIMPULAN, IMPLIKASI
DAN SARAN
1.
Simpulan
Dari pemaparan di atas dapat penulis diambil beberapa kesimpulan antara lain:
a)
kepemimpinan
memiliki konsep yang berkaitan dengan: (1) interaksi antara dua orang atau lebih;
(2) penstrukturan situasi, persepsi dan harapan orang yang dipimpin (anggota
kelompok); (3) memiliki pengaruh sosial untuk mendapat dukungan/bantuan dalam
penyelesaian tugas; (4) proses mempengaruhi interpersonal untuk memotivasi
bawahan; (5) proses untuk membujuk orang lain; (6) Proses memfasilitasi orang
lain dalam upaya kolektif mencapai tujuan bersama.
b)
Kepemimpinan
instruksional kepala madrasah adalah tindakan kepala madrasah mempengaruhi
orang lain untuk bertindak sesuai dengan yang diharapkan guna mencapai tujuan
pembelajaran dengan indikator merumuskan tujuan sekolah, mengkomunikasikan
tujuan sekolah, mensupervisi dan mengevaluasi pembelajaran, mengkoordinasikan
kurikulum, memonitor kemajuan pembelajaran peserta didik, mengkontrol alokasi
waktu pembelajaran, memfokuskan pencapaian visi, menyediakan insentif bagi
guru, menetapkan stándar akademi; dan memberikan insentif bagi peserta didik.
c)
Prisip
pendidikan Islam yakni beriman, bertakwa, berakhlak mulia, berkepribadian
muslim, insan shaleh guna mengemban amanat Allah sebagai khalifah dimuka bumi
dan beribadat kepada Tuhan untuk mencapai ridla-NYA. Seperti yang telah
difirmankan Allah SWT surat Al-Baqarah ayat 30 :
d)
Tujuan pendidikan Islam yakni membentuk insan
kamil yang melipiti manusia yang beriman, bertakwa, berakhlak mulia,
berkepribadian muslim, insan shaleh guna mengemban amanat Allah sebagai
khalifah dimuka bumi dan beribadat kepada Tuhan untuk mencapai ridla-NYA.
Seperti yang telah difirmankan Allah SWT surat Al-Baqarah ayat 30 :
2.
Impikasi
Dari hasil kesimpulan di atas diambil beberapa impliksi dari kepemimpinan
instruksional antara lain:
a)
Kepemimpinan instruksional tepat
untuk kepemimpinan kepala sekolah di lembaga pendidikan baik sekolah ataupun
madrasah karean akan memberikan arah untuk mencapai visi dan misi madrasah
secara lebih operasional;
b)
Kepemimpinan intruksional dapat
membentuk suatu organisisi sekolah yang solid dan egaliter, karena kepala
sekolah menempatkan para pembantunya (guru dan tenaga kependidikan) sebagai
mitra bukan bawahan yang harus diprintah-printah;
3.
Saran
Konsep kepemimpinan instruksional terdapat
keselarasan dengan tujuan dan prinsip pendidikan islam, sehingga kepemimpian
instruksional tepat digunakan pada lembaga-lembaga pendidikan yang bercorak
keagamaan (madrasah) guna mencapai tujuan-tujuan pendidikan islam.
DAFTAR PUSTAKA
Abd ar-Rahman an-Nahlawi, Prinsip-Prinsip Pendidikan Islam, (Bandung:
Diponegoro, 1992)
Abdul Fatah Jalal, Asas-Asas
Pendidikan Islam,(Bandung: Diponegoro, 1988)
Ahmad D. Marimba, Pengantar Filsafat Pendidikan Islam,
(Bandung:al-Ma’arif, 1974)
Ahmad Fuad al-Ahwani, at-Tarbiyah
fi al-Islam, (Kairo: Dar al-ma’arif, 1968)
Ali Khalil Abu al-ainaini, Filsafah at-Tarbiyah al-Islammiyah fi Alqur’an al-
karim, (Kairo:Dar al-Fikr
al-Arabi, 1980)
Hasan Langgulung, pendidikan Islam Menghadapi Abad Ke-21, (Jakarta: Pustaka Al-Husna, 1988)
Imam Bawani, Segi-Segi Pendidikan
Islam, ( Surabaya: Al-Ikhlas, 1987)
Ki Hajar Dewantara, Bagian Pertama
Pendidikan , (Yogyakarta: Majelis Luhur Taman Siswa, 1962)
M. Arifin, Filsafat Pendidikan
Islam, (Jakarta: Bina Aksara, 1987)
Moh. Roqib, Ilmu Pendidikan Islam
: Pengembangan Pendidikan Integratif di Sekolah, Keluarga, dan Masyarakat
(Yogyakarta: LKIS Printing Cemerlang, 2009)
Muahammad Athiyah al-Abrasyi,
at-Tarbiyah al-Islamiyah wa falasifatuha,(Kairo:Isa al-Bab al-Halabi, 1975)
Muhammad Roqib dan muchjiddin
Dimjati, Pendidikan Islam, (Yogyakarta:Aksara Indonesia, 2000)
Nurdin,
Diding. (2015). Manajemen Pendidikan.
Bandung: Alfabeta.
Robbins, S dan Coulter, M. (2007). Manajemen, Edisi Kedelapan, Jakarta: Penerbit PT Indeks.
Rohmat. (2012). Pilar
Peningkatan Mutu Pendidikan. Yogyakarta: Cipta Media Aksara.
Suharsaputra, Uhar. (2016). Kepemimpinan Inovasi Pendidikan. Bandung: Refika Aditama.
Syed Ali Ashraf, Hirison Baru
Pendidikan Islam, (Jakarta: Pustaka Firdaus, 1989)
Umar Muhammad at-Toumi
asy-Syaibani, Falsafah at-Tarbiyah al-Islamiyah,
(Tripoli:asy-Syirkahal-‘Ammahli
an-Nasyr wa at-Tauzi’ al-I’lan,t.t)
Undang-Undang
Nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional.
Zakiah Daradjah, Pendidikan Dalam Keluarga Dan Sekolah, ( Jakarta : Ruhama, 1994)
Comments
Post a Comment