KONSEP QUALITY MANAJEMENT

 

KONSEP QUALITY MANAJEMENT


 

 

 

 

 

 

Makalah Disusun untuk Memenuhi Tugas Kelompok

Mata kuliah: Model-Model Quality Manajement Pendidikan

Dosen Pengampu: Dr.Sudadi

Oleh:

1.          Adurrohman Machmud          (1910565)

2.          Rina Deviyanti                        (1910566)

3.          Reni Wulandari                       (1910567)

4.          Siti Darojah                             (1910568)

5.          Laila Husnul Hotimah             (1910569)

6.          Siti Mungatiqoh                      (1910570)

 

MANAJEMEN PENDIDIKAN ISLAM

PROGRAM PASCASARJANA

INSTITUT AGAMA ISLAM NAHDLATUL ULAMA (IAINU)

KEBUMEN

2020

KATA PENGANTAR

 

              Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat dan memberikan kemudahan kepada penulis sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah ini dengan lancar meskipun banyak hambatan yang harus dilalui.

              Penulis menyusun makalah ini guna melengkapi tugas kelomok mata kuliah Model-Model Quality Manajement Pendidikan. Makalah ini dapat terselesaikan atas bantuan dan bimbingan beberapa pihak. Semoga pihak-pihak yang telah membantu penulis dalam menyelesaikan makalah ini mendapat pahala yang berlimpah dari Allah SWT.

              Penulis menyadari bahwa masih banyak kekurangan-kekurangan yang terdapat dalam makalah ini. Untuk itu, kritik dan saran yang membangun akan penulis terima dengan senang hati sebagai panduan dalam membuat karya berikutnya.

              Semoga makalah ini berguna bagi pembaca.

 

 

Kebumen, 13 Juni 2020

 

Penulis

               

 

 

 

DAFTAR ISI

 

HALAMAN DEPAN................................................................................................ i

KATA PENGANTAR.............................................................................................. ii

DAFTAR ISI............................................................................................................. iii

BAB I PENDAHULUAN........................................................................................ 1

A.    Latar Belakang Masalah.................................................................... 1

B.     Rumusan Masalah.............................................................................. 2

C.     Tujuan Penulisan................................................................................ 2

BAB III PEMBAHASAN........................................................................................ 3

A.    Pengertian Quality Management....................................................... 3

B.     Konsep Quality Management............................................................ 8

C.     Prinsip Quality Management............................................................. 13

D.    Implementasi Quality Management................................................... 16

BAB III PENUTUP.................................................................................................. 22

A.    Kesimpulan........................................................................................ 22

B.     Konklusi............................................................................................. 23

DAFTAR PUSTAKA............................................................................................. 24

 

 

 

 

 

 


BAB I

PENDAHULUAN

 

A.      Latar Belakang Masalah

            Di era globalisasi, kunci untuk meningkatkan daya saing perusahaan adalah kualitas. Perusahaan yang mampu menghasilkan produk (barang dan jasa) berkualitas yang dapat memenangkan persaingan global.

            Bagi setiap perusahaan, mutu adalah agenda yang utama dan meningkatkan mutu merupakan tugas yang paling penting. Walaupun demikian, ada sebagian orang yang menganggap mutu sebagai sebuah konsep yang penuh dengan teka teki. Mutu dianggap sebagai suatu hal yang membingungkan dan sulit untuk diukur.

            Secara definisi, kualitas atau mutu merupakan kemampuan suatu produk untuk memenuhi kebutuhan tanpa adanya cacat. Dilihat dari sudut pandang konsumen, kualitas suatu produk itu dilihat dari kegunaan dan kualitas desainnya. Jika dipandang dari sudut pandang produsen, kualitas suatu produk adalah bagaimana tampilan dari produk yang dihasilkannya apakah sesuai dengan standar yang ditetapkan ataukah tidak.

            Quality Management adalah suatu pendekatan yang seharusnya dilakukan oleh organisasi untuk memperbaiki kualitas outputnya, menekan biaya produksi dan meningkatkan produktivitasnya.

            Tanggung jawab untuk manajemen kualitas ada pada semualevel dari manajemen, tetapi harus dikendalikan oleh manajemen puncak (top management) dan implementasinya harus melibatkan semua anggota organisasi.

            Quality Management telah dikembangkan di banyak negara dengan tujuan membantu organisasi untuk mencapai kinerja yang sempurna, terutama dalam memberikan kepuasan pelanggan, yang berdampak terhadap loyalitas pelanggan dan pasar yang lebih luas, sehingga dapat meningkatkan profitabilitas dengan cara melakukan perbaikan kualitas secara terus menerus. Dan semua manfaat tersebutdapat meningkatkan daya saing perusahaan untuk tetap survive.

 

B.        Rumusan Masalah

            Berdasarkan latar belakang di atas, maka rumusan masalah pada penulisan makalah ini adalah sebagai berikut.

1.         Apa pengertian quality management?

2.         Bagaimana konsep dari quality management?

3.         Bagaimana prinsip quality management?

4.         Bagaimana mengimplementasikan quality management?

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB II

PEMBAHASAN

 

A.    Pengertian  Quality Management (QM)

            Quality Mangement (QM) atau Total Quality Mangement (TQM) berasal dari dunia bisnis dan khususnya dalam dunia perusahaan. Oleh karena itu, untuk memahami TQM harus merujuk pada dunia asalnya. Hal ini bukan berarti bahwa metode bisnis lebih unggul dari pada praktik pendidikan, atau bahwa pendidikan akan bisa ditingkatkan hanya dengan mengadopsi bahasa komersial. Lebih dari itu, justru dunia bisnis dapat belajar dari metode yang diterapkan di beberapa sekolah.

            Di era kontemporer, dunia pendidikan dikejutkan dengan adanya model pengelolaan pendidikan berbasis industri. Pengelolaan model ini menuntut adanya upaya pihak pengelola institusi pendidikan untuk meningkatkan mutu pendidikan berdasarkan manajemen perusahaan. Penerapan manajemen mutu dalam pendidikan ini lebih populer dengan sebutan istilah "Total Quality Education (TQE)", dan di dunia pendidikan nasional dikenal dengan istilah Manajemen Peningkatan Mutu Berbasis Sekolah (MPMBS). Dasar dari manajemen ini dikembangkan dari konsep TQM, yang pada mulanya diterapkan pada dunia bisnis. Secara filosofis, konsep ini menekankan pada pencarian secara konsisten terhadap perbaikan yang berkelanjutan untuk mencapai kebutuhan dan kepuasan pelanggan.[1])

            TQM diartikan sebagai perpaduan semua fungsi manajemen, semua bagian dari suatu perusahaan dan semua orang kedalam falsafah holistik yang dibangun berdasarkan konsep kualitas, teamwork, produktivitas dan kepuasan pelanggan.[2])

            Total Quality Management (TQM) dapat didefinisikan dari tiga kata yang membentuknya, yaitu Total (keseluruhan), Quality (kualitas/derajat keunggulan barang dan jasa), Management (tindakan,seni, cara menangani, pengendalian).[3]) Pengertian kualitas yang diambil dari “American Society for Quality Control” bahwa: “Quality is the totality of features and  characteristics of a product or service that  bear on its ability to satisty stated of implied needs.” [4])

                Definisi tersebut berkonotasi kepada pelanggan. Produk bermutu kalau dapat memuaskan para pelanggan yang mengkonsumsi produk tersebut. Dalam hal kualitas dianggap layak, maka diperlukan suatu produk untuk dapat memenuhi dimensi-dimensi berikut ini.[5])

1.         Performance: seberapa cocok produk itu digunakan sesuai dengan fungsi pemenuhan kebutuhannya

2.         Features: konten dari produk yang membedakannya dari produk lain

3.         Reliability: seberapa lama produk itu dapat bertahan darikerusakan

4.         Conformance: sejauh mana produk dapat dikembangkan oleh konsumen itu sendiri

5.         Durability: seberapa lama produk dapat digunakan sampai benar-benar tidak dapat dipakai lagi

6.         Serviceability, speed, cost, easy to repair: ada tidaknya servicecenter dan seberapa banyak biaya yang dikeluarkan konsumen untuk itu

7.         Esthetic: nilai keindahan dari produk, termasuk dalam definisi ini adalah tampilan fisik produk

8.         Percieved quality: kesan yang membekas dari produk pada pemikiran konsumen

            Definisi lainnya menyatakan bahwa TQM merupakan sistem manajemen yang mengangkat kualitas sebagai strategi usaha dan berorientasi pada kepuasan pelanggan dengan melibatkan seluruh anggota organisasi. TQM merupakan sistem manajemen yang berfokus pada orang/karyawan dan bertujuan untuk terus menerus meningkatkan nilai yang diberikan pada pelanggan dengan biaya penciptaan nilai yang lebih rendah tersebut.

            Total Quality Management atau TQM merupakan suatu penerapan metode kuantitatif dan sumber daya manusia untuk memperbaiki dalam penyediaan bahan baku maupun pelayanan bagi organisasi, semua proses dalam organisasi pada tingkat tertentu di mana kebutuhan pelanggan terpenuhi sekarang dan di masa mendatang.[6])

            Penerapannya di dunia pendidikan jadi Total Quality Management ini adalah metode seorang guru dalam mendidik agar tujuan pendidikan tercapai dan siswa mampu mengikuti sesuai perkembangan zaman. TQM lebih merupakan sikap dan perilaku berdasarkan kepuasan atas pekerjaannya dan kerja tim atau kelompoknya. TQM menghendaki komitmen dari manajemen sebagai pemimpin organisasi di mana komitmen ini harus disebarluaskan pada seluruh karyawan dan dalam semua level atau departemen dalam organisasi. TQM bukan merupakan program atau sistem, tapi merupakan budaya yang harus dibangun, dipertahankan, dan ditingkatkan oleh seluruh anggota organisasi atau perusahaan bila organisasi atau perusahaan tersebut berorientasi pada mutu dan menjadikan mutu sebagai way of life.

            Pengertian lain diberikan oleh Stephen P. Robbins, yang merumuskan Total Quality Management sebagai pencapaian kepuasan pelanggan secara konstan melalui perbaikan secara berkelanjutan dari semua proses organisasional.

            Total Quality Management adalah penerapan metode kuantitatif dan pengetahuan kemanusiaan untuk: [7])

1.         Memperbaiki material dan jasa yang menjadi masukan organisasi

2.          Memperbaiki semua proses penting dalam organisasi

3.         Memperbaiki upaya memenuhi kebutuhan para pemakai produk dan jasa pada kini dan di waktu yang akan datang.

            Berdasarkan definisi TQM, maka dapat disimpulkan definisi TQM (Total Quality Management) merupakan suatu pendekatan dalam menjalankan usaha untuk memaksimalkan daya saing organisasi melalui perbaikan terus menerus atas produk, jasa, tenaga kerja, proses dan lingkungannya.

Di bidang pendidikan TQM dapat didefinisikan sebagai sekumpulan prinsip atau teknik yang menekankan bahwa peningkatan mutu harus bertumpu pada lembaga pendidikan untuk secara terus menerus dan berkesinambungan meningkatkan kapasitas dan kemampuan organisasinya guna memenuhi tuntutan dan kebutuhan peserta didik dan masyarakat. Di dalam TQM terkandung upaya: [8])

1.         Mengendalikan proses yang berlangsung di lembaga pendidikan atau sekolah baik kurikuler maupun administrasi.

2.         Melibatkan proses diagnosis dan proses tindakan untuk menindak lanjuti diagnosis.

3.         Peningkatan mutu harus ditingkatkan atas data dan fakta baik yang bersifat kualitatif maupun kuantitatif.

4.         Peningkatan  mutu    harus    ditingkatkan    secara  terus    menerus dan berkesinambungan.

5.         Peningkatan mutu harus memberdayakan dan melibatkan semua unsur yang ada di lembaga pendidikan.

6.         Peningkatan mutu memiliki tujuan yang menyatakan bahwa sekolah dapat memberikan kepuasan kepada peserta didik, orang tua dan masyarakat.

           

            Untuk dapat menerapkan TQM pada lembaga  pendidikan diperlukan beberapa konsep dasar, teknik dan langkah-langkah penerapannya, antara lain: [9])

a)      Memfokuskan pada produk (yang dalam hal ini adalah murid).

b)      Kepemimpinan dalam organisasi jasa yang mendukung pelaksanaan filosof TQM.

c)      Budaya organisasi (yaitu budaya organisasi yang berorentasi mutu).

d)     Komunikasi yang efektif antar seluruh personil dalam organisasi maupun antara para personil organisasi dengan pelanggan.

e)      Pengetahuan atau keahlian guru dalam melaksanakan filosofi TQM.

f)       Tanggung jawab para karyawan.

g)      Manajemen berdasarkan data dan fakta.

h)      Sudut pandang jangka panjang.

            Total Quality management merupakan sekumpulan langkah yang harus dilalui tingkat demi tingkat untuk dapat menerapkannya. Pada dasarnya untuk dapat menerapkan quality management yang diperlukan adalah dukungan atau komitmen dari pimpinan puncak, komunikasi antar seluruh anggota organisasi, dan adanya perubahan budaya. Yang terpenting dalam penerapan TQM adalah keterlibatan secara menyeluruh setiap orang dalam organisasi atau perusahaan tersebut untuk mengubah budaya (culture) yang lama menjadi budaya baru.

 

B.     Konsep Total Quality Management (TQM)

            TQM merupakan sistem manajemen yang berfokus pada semua orang/tenaga kerja, bertujuan untk terus menerus meningkatkan nilai yang diberikan bagi pelanggan dengan biaya penciptaan nilai yang lebih rendah dari pada nilai suatu produk. Konsep TQM ini memerlukan komitmen semua anggota organisasi terhadap perbaikan seluruh aspek manajemen organisasi.

            Manajemen mutu terpadu (Total Quality Management) merupakan suatu penerapan metode kuantitatif dan sumber daya manusia untuk memperbaiki dalam penyediaan bahan baku maupun pelayanan bagi organisasi, semua proses dalam organisasi pada tingkat tertentu di mana kebutuhan pelanggan terpenuhi sekarang dan di masa mendatang. TQM lebih merupakan sikap dan perilaku berdasarkan kepuasan atas pekerjaannya dan kerja tim atau kelompoknya.[10])

            TQM menghendaki komitmen dari manajemen sebagai pemimpin organisasi di mana komitmen ini harus disebarluaskan pada seluruh karyawan dan dalam semua level atau departemen dalam organisasi. TQM bukan merupakan program atau sistem, tapi merupakan budaya yang harus dibangun, dipertahankan, dan ditingkatkan oleh seluruh anggota organisasi atau perusahaan bila organisasi atau perusahaan tersebut berorientasi pada mutu dan menjadikan mutu sebagai way of life.

            Pada dasarnya, konsep TQM mengandung tiga unsur, yaitu sebagai berikut.[11])

1.      Strategi Nilai Pelanggan

            Nilai pelanggan adalah manfaat yang dapat diperoleh pelanggan atas penggunaan barang/jasa yang dihasilkan perusahaan dan pengorbanan pelanggan untuk memperolehnya. Strategi ini merupakan perencanaan bisnis untuk memberikan nilai bagi pelanggan termasuk karakteristik produk, cara penyampaian, pelayanan dan sebagainya.

2.      Sistem Organisasional

            Sistem organisasional berfokus pada penyediaan nilai bagi pelanggan. Sistem ini mencakup tenaga kerja, material, mesin/teknologi proses, metode operasi dan pelaksanaan tenaga kerja, aliran proses kerja, arus informasi dan pembuatan keputusan.

 

3.      Perbaikan Berkelanjutan

            Perbaikan kualitas diperlukan untuk menghadapi lingkungan eksternal yang selalu berubah, terutama perubahan selera pelanggan. Konsep ini menuntut adanya komitmen untuk melakukan pengujian kualitas produk secara kontinu. Dengan perbaikan kualitas produk kontinu, akan dapat memuaskan pelanggan.

 

Pengendalian, sistem, dan teknik-teknik sangat diperlukan dalam penerapan TQM, tetapi semuanya itu bukan merupakan kebutuhan utama. Yang terpenting dalam penerapan TQM adalah keterlibatan secara menyeluruh setiap orang dalam organisasi atau perusahaan atau sekolah tersebut untuk mengubah budaya (culture) yang lama menjadi budaya baru. Perubahan tersebut antara lain: [12])

a.       Dari kerahasiaan atau sesuatu yang bersifat selentingan menjadi komunikasi terbuka antar seluruh anggota organisasi sekolah.

                        Dengan keterbukaan maka kerjasama akan terwujud, dan dengan keterbukaan, maka kesalahpahaman dapat segera teratasi.

b.      Dari pengendalian menjadi pemberdayaan.

                        Karyawan tidak mau kalau secara terus menerus dimonitor. Mereka ingin selalu dilibatkan, diajak berdiskusi, dan berpendapat. Mereka juga harus diserahi tanggung jawab yang sesuai serta mendapatkan kesempatan untuk berkembang dan mendapat penghargaan atas prestasi yang diraih.[13])

c.       Dari inspeksi menjadi pencegahan.

                        Inspeksi adalah pemeriksaan terhadap barang atau produk jadi setelah keluar dari proses produksi. Sehingga bila ada produk yang cacat atau tidak sesuai dengan spesifikasi pelanggan, akan dibuang atau diadakan pengerjaan ulang. Hal inilah yang membuat perusahaan harus membayar mahal. Dalam TQM tidak ada lagi istilah inspeksi, melainkan pencegahan. Artinya, sejak dari perencanaan produk. Proses produksi hingga menjadi produk akhir menghasilkan cacat atau kesalahan nol (zero defect). Dalam sekolahan jadi semua proses belajar mengajar itu diperiksa sehingga output yang ada itu sudah teruji.[14])

d.      Dari fokus internal dan fokus eksternal.

                        Fokus internal adalah perhatian perusahaan atau organisasi yaitu sekolah ada kemampuan yang dimiliki saja, sehingga proses produksi dilaksanakan berdasarkan kemampuan tanpa memperhatikan permintaan pelanggan (push system) sedangkan TQM menganggap bahwa cara berproduksi seperti ini adalah pemborosan. TQM  lebih memfokuskan pada kebutuhan dan harapan.

e.       Dari biaya dan penjualan menjadi kesesuaian terhadap mutu.

                        Semula, perusahaan atau organisasi hanya memperhatikan masalah biaya dan waktu produksi. Namun kondisi tersebut kemudian berubah menjadi mutu produk yang menjadi orientasinya. Mutu produk yang dimaksud di sini adalah dengan memperhatikan kebutuhan dan harapan pelanggan. Barang atau jasa dikatakan bermutu bila mampu mengurangi biaya (cost reduction), menghilangkan pemborosan (eliminating waste), menyampaikan secara tepat waktu (faster delivery), dan menjual dengan harga rendah ( lower price). Apabila hal tersebut tercapai, maka profit meningkat.

 

f.       Dari stabilitas menjadi perubahan dan perbaikan secara terus menerus.

                        Kondisi yang tidak berubah bukannya membawa keuntungan dan manfaat bagi perusahaan. Justru perusahaaan atau organisasi yang mau berubah dan mau secara terus menerus mengadakan perbaikan itulah yang akan berhasil dengan baik. Dalam kondisi yang serba stabil, orang tidak akan pernah mau belajar. Sementara dalam organisasi yang menggunakan filosofi TQM dituntut untuk selalu belajar atau berubah, memperbaiki atau meningkatkan kemampuannya, karena prinsip TQM yang continuous quality improvement.

g.      Dari hubungan yang sifatnya persaingan menjadi hubungan kerjasama.

                        Dalam organisasi yang menggunakan konsep TQM semua pihak yang berhubungan baik secara langsung maupun tidak langsung dengan organisasi tersebut (pemasok, pelanggan, pesaing, dan lain-lain) adalah teman atau saudara. Hal ini menuntut adanya kerjasama yang kuat dan saling membantu. Hubungan erat dan kerjasama yang baik dengan pelanggan akan membuat mereka terbuka untuk memberikan kritik dan saran untuk peningkatan produk dan jasa yang dihasilkan perusahaan.[15])

h.      Dari pengalokasian dan melemparkan hal-hal yang tidak diketahui menjadi penyelesaian semua masalah sampai akar-akarnya.

                        Perusahaan biasanya akan menutupi masalah yang dihadapi dan bersikap pura-pura tidak tahu, atau membenci siapa pun yang mengetahui permasalahan yang ada. Perusahaan atau organisasi yang menganut filosof TQM  justru akan menghadapi semua permasalahan yang ada, mencari penyelesaian hingga tuntas.

 

C.    Prinsip Total Quality Management (TQM)

          TQM merupakan suatu konsep yang berupaya melaksanakan sistem manajemen kualitas kelas dunia. Untuk itu, diperlukan perubahan besar dalam budaya dan sistem nilai suatu organisasi. Menurut Hensler dan Brunell, ada empat prinsip utama dalam TQM, yaitu:[16])

1.      Kepuasan Pelanggan

            Dalam TQM, konsep mengenai kualitas dan pelanggan diperluas. Kualitas produk tidak hanya bermakna kesesuaian dengan spesifikasi-spesifikasi tertentu, tetapi kualitas tersebut ditentukan oleh pelanggan. Kebutuhan pelanggan diusahakan untuk dipuaskan dalam segala aspek, termasuk didalamnya harga, keamanan dan ketetapan waktu. Oleh karena itu, segala akivitas perusahaan harus dikoordinasikan untuk memuaskan para pelanggan.[17])

            Kualitas yang dihasilkan suatu perusahaan sama dengan nilai yang diberikan dalam rangka meningkatkan kualitas hidup para pelanggan. Semakin tinggi nilai yang diberikan, maka semakin besar pula kepuasan pelanggan.

2.      Respek Terhadap Setiap Orang

            Dalam perusahaan yang kualitasnya tergolong kelas dunia, setiap karyawannya dipandang sebagai individu yang memiliki talenta dan kreativitas yang khas. Dengan demikian, karyawan merupakan sumber daya organisasi yang paling bernilai. Oleh karena itu, setiap orang dalam organisasi diperlakukan dengan baik dan diberi kesempatan untuk terlibat dan berpastisipasi dalam tim pengambil keputusan.[18])

3.      Manajemen Berdasarkan Fakta

            Perusahaan kelas dunia berorientasi pada fakta. Maksudnya, bahwa setiap keputusan selalu didasarkan pada data, bukan sekedar pada perasaan (feeling). Ada dua konsep pokok yang berkaitan dengan hal ini.[19])

            Pertama, prioritas (prioritization), yakni suatu konsep bahwa perbaikan tidak dapat dilakukan pada semua aspek pada saat yang bersamaan, mengingat keterbatasan sumber daya yang ada. Oleh karena itu, dengan menggunakan data, maka manajemen dan tim dalam organisasi dapat memfokuskan usahanya pada situasi tertentu yang vital.

            Konsep kedua variasi atau variabilitas kinerja manusia. Data statistik dapat memberikan gambaran mengenai variabilitas yang merupakan bagian yang wajar dan setiap sistem organisasi. Dengan demikian, manajemen dapat memprediksi hasil dari setiap keputusan dan tindakan yang dilakukan.

4.      Perbaikan Berkesinambungan

            Agar dapat sukses, setiap perusahaan perlu melakukan proses sistematis dalam melaksanakan perbaikan secara berkesinambungan. Konsep yang berlaku disini adalah siklus PDCAA (Plan-Do-Check-Act-Analyze), yang terdiri dari langkah-langkah perencanaan, melakukan tindakan korektif terhadap hasil yang diperoleh.[20])

            Menurut Dean sebagaimana dikutip oleh Ali Djamhuri beberapa prinsip umum Manajemen Mutu Terpadu diantaranya meliputi:[21])

a.         Organisasi yang memfokuskan pada ketercapaian kepuasan pelanggan (Customer Focus Organization)

         Organisai dalam hal ini manajemen harus dapat mengoptimalkan seluruh potensi dan sumber daya organisai dan sistem yang ada untuk menciptakan aktivitas terhadap tercapainya kepuasan pelanggan. Tercapainya kepuasan pelanggan meliputi seluruh stakeholders, baik yang berada didalam organisasi maupun di luar organisasi.[22])

         Ekspektasi stakeholders harus diletakkan pada posisi dan perspektif yang dinamis dan berjangka panjang. Oleh karenanya harapan tersebut menjadi kewajiban organisasi untuk memenuhinya dalam rangka kepuasan pelanggan, yang berkelanjutan dan ke massa depan.

b.         Kepemimpinan (Leadership)

         Kepemimpinan merupakan proses untuk mempengaruhi pihak lain untuk mencapai tujuan organisasi. Oleh karenanya pemimpin harus memiliki visi dan misi yang jelas, sehingga keduanya dapat dituangkan dalam kebijakan yang akan diambil.[23])

c.         Hubungan dengan supplier yang saling menguntungkan (Mutually Beneficial Relationship).

 

D.    Implementasi Total Quality Management (TQM)

            Organisasi menerapkan TQM, dikarenakan persaingan di dunia usaha semakin ketat, sehingga untuk semakin bertahan harus dapat meningkatkan produktivitas melalui efektivitas dan efisiensi. Hanya dengan cara demikian bisnis mampu mempertahankan competitiveness, yaitu sebuah kemampuan untuk menghadapi persaingan.[24])

            Dengan kemampuan tersebut, diharapkan bisnis dapat memberikan kepuasan kepada pelanggan. Pelanggan yang terpuaskan akan menjadi pelanggan yang loyal terhadap produk atau jasa yang ditawarkan bisnis. Pada gilirannya hal tersebut akan mendatangkan peningkatan keuntungan bagi bisnis.

            Untuk menjamin keberhasilan dalam mengimplementasikan TQM, terdapat langkah-langkah yang harus dilakukan secara berurutan dan disiplin. Langkah-langkah tersebut adalah sebagai berikut.[25])

1.         Tanamkan satu falsafah kualitas

          Dalam hal ini, manajemen dan karyawan harus mengerti sepenunya dan yakin mengapa organisasi akan mencapai Total Quality, yaitu untuk menjamin kelangsungan hidup organisasi dalam iklim kompetitif.[26])

2.         Manajemen harus membimbing dan menunjukkan kepemimpinan yang bermutu

          Dalam hal ini, manajemen puncak harus memberi contoh dalam hal pola sikap, pola pikir dan pola tindak yang mencerminkan falsafah yang telah ditanamkan.

3.         Kalau perlu, adakan perubahan atau modifikasi terhadap sistem yang ada agar kondusif dengan tujuan Total Quality.

          Sesudah menunjukkan kepemimpinan yang bermutu secara konsisten kepada seluruh anggota organisasi, manajemen perlu meninjau kebijaksanaan, sistem dan prosedur yang ada dalam organisasi dan menilai apakah software tersebut konsisten dan kondusif terhadap Total Quality.[27])

           Hal-hal yang dinilai meliputi struktur organisasi, proses kegiatan, kebijaksanaan, pengembangan sumber daya manusia, sesudah penilaian maka harus ada keputusan tentang sistem atau struktur yang ada, yang mana dipertahankan atau diubah secepatnya demi pencapaian tujuan Total Quality.

4.         Didik, latih dan berdayakan karyawan

          Dalam pemberdayaan ini, seluruh karyawan diberi kepercayaan, tugas wewenang dan tanggung jawab untuk mengorganisasikan diri ke dalam self-managing teams guna memperbaiki proses dalam mencapai mutu produk dan jasa.

Keuntungan yang didapatkan perusahaan karena menyediakan barang atau jasa berkualitas baik berasal dari pendapatan penjualan yang lebih tinggi dan biaya yang lebih rendah, gabungan keduanya menghasilkan profitabilitas dan pertumbuhan perusahaan.

TQM terhadap sekolah didasarkan atas pemikiran bahwa pada administrator dan manajer pendidikan perlu menemukan kerangka kerja yang muncul dari dalam lembaga pendidikan itu sendiri, yang diperkirakan dapat menopang mutu dan kinerja sekolah dan lembaga pendidikan yang menjadi tanggung jawab mereka. Morgan dan Murgatroyd (1994) mengemukakan empat gagasan dasar yang sangat sentral bagi keefektifan sistem persekolahan.[28])

Pertama adalah bahwa lembaga pendidikan merupakan mata rantai yang menghubungkan pelanggan (Customer, Klien) dan pemasok (Supplier). Sekolah dalam realitanya adalah suatu organisasi yang mengendalikan mata rantai para klien. Para guru adalah pemasok layanan terhadap peserta didik dan para orang tua, pemerintah merupakan pemasok layanan terhadap guru, administrator sekolah adalah pemasok layanan kepada guru dan para guru memberikan layanan satu terhadap yang lain. Ada pelanggan internal ialah mereka yang bekerja untuk sekolah dan ada pula pelangan eksternal ialah mereka yang mempunyai tuntutan atau kepentingan layanan dari sekolah.

Kedua, yang merupakan gagasan kunci adalah bahwa semua hubungan antara pelanggan dan pemasok apakah itu internal maupun eksternal ditengahi oleh proses. Guru yang menyelenggarakan kesempatan belajar kepada peserta didik, staf tata usaha yang menyediakan layanan kepentingan atau administrator yang merancang jadwal kegiatan tahunan sekolah, semuanya itu merupakan rangkaian manajemen proses. Mutu atau kualitas diproses melalui perbaikan proses yang diharapkan mampu mendukung hasil-hasil yang berbeda dari proses tersebut.

Ketiga, orang yang paling dapat melakukan perbaikan proses adalah mereka yang dekat dengan pelanggan dalam proses tersebut. Pernyataan itu harus dilihat sebagai implikasi yang agak radikal terhadap pengawas, manajemen dan desain sekolah sebagai suatu organisasi.

Keempat, pemandangan yang dianggap agak radikal bagi kebanyakan manajer yang diangkat disekolah, yaitu perasaan bahwa mereka ditunjuk untuk memimpin organisasi. Dalam alur organisasi semua harus melapor dan bertanggung jawab kepada mereka. Karena itu adalah hal yang sangat krisis diperankan dalam peranan kepemimpinan semacam itu disekolah. Hal penting yang perlu dikemukakan disini adalah bahwa kepemimpinan bagi visi, mutu dan performansi, serta kepemimpinan untuk pengawasan merupakan dua hal yang sangat berbeda di dalam pelaksanaannya. Untuk menjamin terhadapnya dukungan perbaikan performansi kualitas terhadap sekolah dipersyaratkan kepemimpinan yang bervisi, yang mendukung meningkatkan kinerja terhadap mereka yang dekat (familier) dengan klien.

Manajemen peningkatan mutu mempersyaratkan integrasi dari berbagai faktor yaitu: [29])

a.       Pelanggan atau klien

            Dalam organisasi TQM pelanggan adalah seseorang atau kelompok yang menerima produk atau jasa layanan. Jadi klien tidak berada secara external terhadap organisasi tetapi berada pada setiap tahapan yang mempersyaratkan penyempurnaan hasil sebuah produk atau pemberian layanan. Hal ini menggambarkan bahwa terhadap mata rantai dari klien yang keterkaitannya bersama dengan proses.

b.      Kepemimpinan

            Jika integritas moral merupakan hal yang fondamental bagi  TQM,  maka kepemimpinan   merupakan            cara      mengerjakannya. Kepemimpinan dalam konteks TQM adalah menetapkan dan mengendalikan visi. TQM secara tajam menggambarkan perbedaan memimpin, memanage dan mengadministrasikan. Pemimpin dalam TQM pada dasarnya peduli dengan nilai- nilai dan orang, menetapkan arah dan mengijinkan orang untuk mencapai target yang berhubungan dengan hal makro maupun mikro.

c.       Tim

            Sebuah tim merupakan kualitas kelompok. Hampir semua keputusan menekankan pentingnya kejelasan tujuan dan hubungan interpersonal yang efektif bagai dasar terjadinya kerja kelompok yang efektif. Baik secara teoritik maupun praktik tim di pandang sebagai hal yang fondamental terhadap manajemen mutu dalam organisasi.

d.      Proses

            Kunci penting dalam manajemen mutu adalah menetapkan komponen proses kerja. Pada dasarnya, sekali klien menetapkan persyaratan yang telah di sepakati, maka hal penting untuk dilakukan adalah menetapkan proses dan prosedur yang menjamin kesesuaiannya dengan persyaratan.

e.       Struktur

            Organisasi yang mencoba memperkenalkan TQM tanpa meninjau strukturnya mungkin akan menghadapi kegagalan. Beberapa organisasi memiliki struktur yang berfokus pada klien cenderung mendasarkan diri pada hirarki formal sekaligus membatasi kerja praktis yang birokratik. Misalnya organisasi memiliki kedekatan secara utuh dengan klien, pemasok berbicara dengan klien.

Keberhasilan TQM suatu organisasi seharusnya melahirkan rasa kebanggan dan kesempatan untuk berkembang bagi orang-orang didalamnya (staf dan klien) sehingga mereka merasa sebagai pemilik atau ikut memiliki, perwujudan tujuan suatu organisasi bersama dan di antara semua karyawan.[30])

Komitmen berarti juga keterlibatan menanggung akibat dalam pencapaian tujuan, menurut kerja yang sistematis, meneruskan informasi mengenai adanya kesempatan untuk melakukan inovasi dan pengembangan. Komitmen sifatnya normatif.

Komunikasi di antara anggota tim memiliki kekuatan, walaupun sederhana tetapi efektif, komunikasi harus didasarkan pada kenyataan dan pengertian yang murni, bukannya asumsi apalagi yang sifatnya humor. Komunikasi memiliki alur yang bebas dalam organisasi.

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB III

PENUTUP

 

A.      Kesimpulan

              Berdasarkan pembahasan di atas, maka kesimpulan penulisan makalah ini adalah sebagai berikut.

1.      Quality Mangement (QM) atau Total Quality Mangement (TQM) berasal dari dunia bisnis dan khususnya dalam dunia perusahaan. Oleh karena itu, untuk memahami TQM harus merujuk pada dunia asalnya. Hal ini bukan berarti bahwa metode bisnis lebih unggul dari pada praktik pendidikan, atau bahwa pendidikan akan bisa ditingkatkan hanya dengan mengadopsi bahasa komersial.

2.      TQM merupakan sistem manajemen yang berfokus pada semua orang/tenaga kerja, bertujuan untk terus menerus meningkatkan nilai yang diberikan bagi pelanggan dengan biaya penciptaan nilai yang lebih rendah dari pada nilai suatu produk. Konsep TQM ini memerlukan komitmen semua anggota organisasi terhadap perbaikan seluruh aspek manajemen organisasi.

3.      Menurut Hensler dan Brunell, ada empat prinsip utama dalam TQM, yaitu: kepuasan pelanggan, respek terhadap setiap orang,manajemen berdasarkan fakta, dan perbaikan berkesinambungan.

4.      TQM terhadap sekolah didasarkan atas pemikiran bahwa pada administrator dan manajer pendidikan perlu menemukan kerangka kerja yang muncul dari dalam lembaga pendidikan itu sendiri, yang diperkirakan dapat menopang mutu dan kinerja sekolah dan lembaga pendidikan yang menjadi tanggung jawab mereka.

B.       Konklusi

            Penerapannya di dunia pendidikan jadi Total Quality Management ini adalah metode seorang guru dalam mendidik agar tujuan pendidikan tercapai dan siswa mampu mengikuti sesuai perkembangan zaman. TQM lebih merupakan sikap dan perilaku berdasarkan kepuasan atas pekerjaannya dan kerja tim atau kelompoknya. TQM menghendaki komitmen dari manajemen sebagai pemimpin organisasi di mana komitmen ini harus disebarluaskan pada seluruh karyawan dan dalam semua level atau departemen dalam organisasi.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Hardjosoedarmo, Soewarso, 2004. Bacaan Terpilih Tentang Total Quality Management. Yogyakarta: Andi.

 

Nasution, M.N. 2010. Manajemen Mutu Terpadu. Bogor: Ghalia Indonesia.

 

Prawirosentono, Suyadi. 2004. Filosofi Baru Tentang Manajemen Mutu Terpadu Total Quality Management Abad 21 Studi Kasus Analisis. Jakarta: Bumi Aksara.

 

Wahyu Ariani, Dorothea. 1999. Manajemen Kualitas. Yogyakarta: cetakan pertama.

Wibowo. 2016. Manajemen Kinerja. Jakarta: Rajawali Pers.

 

https://id.scribd.com/doc/65158465/Total-Quality-Management-Manajemen-Mutu-Terpadu

 

https://elqorni.wordpress.com/category/manajemen-kualitas/total-quality-management/

 

 



                        [1]) Soewarso Hardjosoedarmo, Bacaan Terpilih Tentang Total Quality Management, (Yogyakarta: Andi, 2004), al., 12.

 

                        [2]) Ibid., hal., 14.

 

                        [3]) Ibid., hal., 15.

 

                        [4]) Ibid., hal., 16.

 

                        [5]) Ibid., hal., 25.

[6]) Dorothea Wahyu Ariani, Manajemen Kualitas, (Yogyakarta: cetakan pertama, 1999), hal., 23.

 

                        [7]) M.N. Nasution, Manajemen Mutu Terpadu (Bogor: Ghalia Indonesia, 2010) hal., 12.

 

                              [8]) Ibid., hal., 18.

 

[9]) Dorothea Wahyu Ariani, Op. Cit, al., 29.

 

                        [10]) Ibid., hal., 26.

 

                        [11]) Ibid., hal., 30.

[12]) Dorothea Wahyu Ariani, Op. Cit, al., 33.

 

                        [13]) Ibid.

                        [14]) Ibid., hal., 34.

                        [15]) Ibid., hal., 35.

                [16]) Suyadi Prawirosentono, Filosofi Baru Tentang Manajemen Mutu Terpadu Total Quality Management Abad 21 Studi Kasus Analisis, (Jakarta: Bumi Aksara, 2004), hal., 33.

 

                        [17]) Ibid., hal., 34.

                        [18]) Ibid., hal., 35.

 

                        [19]) Ibid.

 

                        [20]) Ibid.,

 

                [21]) Wibowo, Manajemen Kinerja., (Jakarta: Rajawali Pers, 2016), hal., 23.

                       

                        [22]) Ibid.,

 

                        [23]) Ibid., hal., 24

 

                [24]) Suyadi Prawirosentono, Op. Cit., hal., 39.

 

                        [25]) Ibid., hal., 44.

 

                        [26]) Ibid.

 

                        [27]) Ibid., hal., 45

 

                        [28]) Ibid.

 

                        [29]) https://id.scribd.com/doc/65158465/Total-Quality-Management-Manajemen-Mutu-Terpadu diakses pada tanggal 13 Juni 2020 pukul 20.00.

 

                        [30])https://elqorni.wordpress.com/category/manajemen-kualitas/total-quality-management/ diakses pada tanggal 13 Juni 2020 pukul 21.13.

 

Comments

Popular posts from this blog

CONTOH SK PENGEMBANG KURIKULUM DAN NOTULEN

URGENSI MANAJEMEN SUMBER DAYA MANUSIA DALAM ORGANISASI

SOAL UP PENDIDIKAN PROFESI GURU (PPG)