Manajemen Mutu Pendidikan di Pesantren

 

BAB I

PENDAHULUAN

 

A. Latar Belakang Masalah

                Mary Parker Follet mendefinisikan “manajemen sebagai seni menyelesaikan pekerjaan melalui orang lain”. Definisi ini berarti bahwa seorang manajer harus mengatur dan mengarahkan lain untuk mencapai tujuan organisasi.[1])

            Manajemen sebagai ilmu yg baru dikenal pada pertengahan abad ke-19 dewasa ini sangat populer bahkan dianggap sebagai kunci keberhasilan pengelola perusahaan atau lembaga pendidikan tak terkecuali lembaga pendidikan Islam seperti pondok pesantren maka hanya dengan manajemen lembaga pendidikan pesantren diharapkan dapat berkembang sesuai harapan karena itu manajemen merupakan sebuah niscaya bagi lembaga pendidikan Islam atau pesantren untuk mengembangkan lembaga ke arah yg lebih baik.

                Sebagai lembaga pendidikan, pesantren telah eksis di tengah masyarakat selama enam abad (mulai abad ke-15 hingga sekarang) dan sejak awal berdirinya menawarkan pendidikan kepada mereka yang masih buta huruf. Pesantren pernah menjadi satu-satunya institusi pendidikan milik masyarakat pribumi yang memberikan kontribusi sangat besar dalam membentuk masyarakat.

            Pesantren atau pondok adalah lembaga yang bisa dikatakan merupakan wujud proses wajar perkembangan sistem pendidikan nasional. Dari segi historis, pesantren tidak hanya identik dengan makna keislaman,tetapi juga mengandung makna keaslian Indonesia.[2])

            Pesantren merupakan produk sejarah yang telah berdialog dengan zamannya masing-masing yang memiliki karakteristik berlainan baik yang menyangkut sosio-politik, sosio-kultural, sosio-ekonomi maupun sosio-religius. Antara pesantren dan masyarakat sekitar, khususnya masyarakat desa telah terjalin interaksi yang harmonis, bahkan keterlibatan mereka cukup besar dalam mendirikan pesantren. Sebaliknya kontribusi yang relatif besar dihadiahkan pesantren untuk pembangunan masyarakat.

            Untuk meneruskan perjuangan dan cita-cita para pendiri pesantren, para generasi baru tidak akan terlepas dari visi, misi dan tujuan pendidikan Islam secara umum. Selain itu sistem-sistem dan komponen-komponen yang harus ada untuk mencapai cita-cita yang diharapkan pun tidak bisa ditinggalkan. Seperti kurikulum, manajemen, sumber daya manusia, budaya organisasi, dan sebagainya.

            Dengan demikian secara sepintas pesantren tidak berbeda dengan dengan lembaga pendidikan lainnya. Apabila dirunut ke zaman kolonial, pesantren pun ikut andil dalam merebut dan mempertahankan kemerdekaan dari musuh-musuh bangsa Indonesia. Sejarah mencatat bahwa pondok pesantren adalah lembaga pendidikan, keagamaan dan kemasyarakatan yang sudah sejak lama dikenal sebagai wahana pengembangan masyarakat (community development).[3])

            Pesantren dikatakan bermutu jika output yang dihasilkannya dapat menyatukan antara pendidikan agama dengan pendidikan umum sesuai dengan kebutuhan masyarakat. Artinya, keseimbangan dalam diri output pendidikan pesantren merupakan kebutuhan primer.

            Adapun mutu diartikan kualitas (quality). Menurut Juran, mutu adalah kecocokan penggunaan produk untuk memenuhi kebutuhan dan kepuasan pelanggan, sedangkan menurut Crosby mutu adalah sesuai dengan yang diisyaratkan dan distandarkan. Adapun Rohiat menyata-kan bahwa mutu adalah gambaran dan karakteristik menyeluruh dari barang atau jasa yang menunjukkan kemampuannya dalam memuaskan kebutuhan yang diharapkan.[4])

            Penulis sendiri mengartikan manajemen tidak hanya terbatas pada pengarahan orang dan tugas atau fungsi, melainkan manajemen mencakup pengertian yang lebih luas yakni dari perencanaan, pengorganisasian, penggerakan, sampai pada pengawasan sumber daya lain yang terlibat dalam aktivitas organisasi.

            Dari berbagai definisi tentang pondok pesantren, mutu dan manajemen maka manajemen mutu pesantren hendaknya dipahami sebagai suatu proses yang meliputi serangkaian tindakan, di mana unsur-unsur dan fungsi-fungsi manajemen dipekerjakan se-efisien dan efektif mungkin dengan bantuan orang lain yang bertujuan untuk mencapai goals dan sasaran yang telah ditentukan pesantren sesuai dengan kebutuhan dan kepuasan pelanggan serta berdasarkan atau melebihi standarkan yang telah ditetapkan mulai dari input, proses, sampai pada output pendidikan.

            Melihat latar belakang masalah di atas, maka dari itu penulis berminat untuk mengangkat tema terseut dalam makalah yang berjudul "Manajemen Mutu Pendidikan di Pesantren".

 

B.       Rumusan Masalah

            Berdasarkan latar belakang masalah di atas, maka rumusan masalah dari karya ilmiah ini adalah sebagai berikut.

1.        Bagaimana konsep manajemen mutu?

2.        Bagaimana manajemen mutu pendidikan di pesantren yang terjadi di pesantren?

 

C.      Tujuan Penulisan

            Berdasarkan rumusan masalah di atas, maka tujuan penulisan dari makalah ini adalah sebagai berikut.

1.        Mengetahui pengertian manajemen mutu.

2.        Mengetahui manajeman mutu pendidikan di pesantren.

 

 

BAB II

PEMBAHASAN

 

A.      Konsep Manajemen Mutu Pendidikan

1.    Pengertian Manajemen Pendidikan

                        Manajemen adalah penggunaan efektif sumber tenaga manusia dan bukan manusia serta bahan-bahan materil lainnya dalam rangka mencapai tujuan yang telah ditentukan.[5])

                        Manajemen belum memiliki definisi yang mapan dan diterima secara universal. Manajemen adalah suatu proses sosial yang berkenaan dengan keseluruhan usaha manusia dengan bantuan manusia lainnya serta sumber-sumber lainnya dengan metode yang efisien dan efektif untuk mencapai tujuan yang telah dirumuskan sebelumnya.

                        Manajemen dapat diartikan sebagai suatu proses yang terdiri dari rangkaian kegiatan, seperti perencanaan, pengorganisasian, pengarahan dan evaluasi yang dilakukan untuk menentukan dan mencapai tujuan yang telah ditetapkan melalui pemanfaatan sumber daya manusia dan sumber daya lainnya.[6])

                                Selain itu, Stoner juga menyatakan bahwa pengertian manajemen adalah proses perencanaan, pengorganisasian, pengarahan dan pengawasan, usaha-usaha para anggota organisasi dan penggunaan sumber daya organisasi lainnya agar mencapai tujuan yang telah ditetapkan.[7])

                                Manajemen berasal dari bahasa latin, yaitu berasal dari kata manus yang berarti tangan, dan agere artinya melakukan; digabung menjadi kerta kerja managere, berarti menangani; diterjemahkan ke dalam bahasa inggris, to manage, kata bendanya managemet (mengatur atau mengelola); manajemen kini diartikan pengelolaan. Menurut arti istilah, banyak pakar yang mengemukakan beragam definisi: (1) manajemen adalah ilmu dan seni perencanaan, pengorganisasian, penyusunan, pengarahan dan pengawasan sumberdaya untuk mencapai tujuan yang sudah ditetapkan,4 (2) manajemen yaitu segenap proses penyelenggaraan dalam setiap usaha kerjasama sekelompok manusia untuk mencapai tujuan tertentu,5 (3) sejumlah pakar mengartikan: manajemen adalah pencapaian tujuan yang ditetapkan lebih dulu dengan mempergunakan kegiatan orang lain.[8])

                                Dari pengertian di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa pengertian manajemen adalah suatu proses merencanakan, mengorganisasi, mengarahkan, dan mengevaluasi sesuatu untuk mencapai tujuan.                                                Sedangkan pengertian pendidikan berasal dari kata "didik", lalu kata ini mendapat awalan me sehingga menjadi "mendidik" yang artinya memelihara dan memberi latihan.[9])

                                Selain itu, menurut Poerbakawatja dan Harahap pendidikan adalah usaha secara sengaja dari orang dewasa untuk dengan pengaruhnya meningkatkan si anak ke kedewasaan yang selalu diartikan mampu menimbulkan tanggung jawab moril dari segala perbuatannya.[10])

                                Menurut Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasioanl Nomor 20 Tahun 2003 Pasal 1 butir 1, pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agarpeserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta ketrampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa, dan negara.[11])

                                Dari beberapa pengertian pendidikan di atas, maka dapat disimpulkan pengertian pendidikan adalah proses atau segala upaya utuk menumbuhkembangkan segala potensi yang ada dalam diri manusia baik secara mental, moralm dan fisik untuk menjadi manusia yang dewasa, bertanggung jawab.

                                Dengan demikian, manajemen pendidikan adalah proses pemanfaatan semua daya yang dimiliki melalui kerja sama dengan orang lain secara efektif, efisien, dan produktif untuk mencapai kesejerahteraan seseorang atau kelompok.

                                Manajemen pendidikan menduduki posisi vital dalam dunia pendidikan. Manajemen diibaratkan sebagai ruh yang akan menggerakkan gerak-hidup raga pendidikan. Sukses atau gagalnya dunia pendidikan dalam mencapai cita-cita dan tujuan sangat ditentukan sejauh mana manajemen dijalankan dengan baik. Kegagalan manajemen sudah dipastikan menyebabkan gagalnya upaya pencapaian tujuan pendidikan.

2.    Fungsi Manajemen Pendidikan

                        Fungsi manajemen adalah elemen-elemen dasar yang selalu ada dan melekat di dalam proses manajemen yang akan dijadikan acuan oleh manajer dalam melaksanakan kegiatan untuk mencapai tujuan.                                     Namun  terdapat perbedaan pandangan  mengenai  fungsi-fungsi  manajemen    oleh  beberapa  ahli, diantaranya sebagi berikut.[12])

a.       Menurut George R. Terry  fungsi-fungsi menejemen meliputi Perencanaan (Planning), Pengorganisasian (Organizing), Pengarahan (Actuatting), Pengendalian (Controlling).

b.      Menurut Henry Fayol, fungsi manajemen meliputi perencanan (planning), Pengorganisasian (Organizing), Pengarahan (Commanding), Pengoordinasian (Coordinating), Pengendalian (Controlling).

c.       Menurut Ricki W. Griffin, fungsi manajemen meliputi perencanaan dan pengambilan keputusan (planning and decision making), pengorganisasian (organizing), pengarahan (leading) serta pengendalian (controling).

                        Dari perbandingan beberapa fungsi manajemen di atas, dapat dipahami bahwa semua manajemen diawali dengan perencanaan (planning) karena perencanaan yang akan menentukan tindakan apa yang harus dilakukan selanjutnya.

                        Setelah perencanaan adalah pengorganisasaian (organizing). Hampir semua ahli menempatkan pengorganisasian di posisi kedua setelah perencanaan. Pengorganisasian merupakan pembagian kerja dan sangat berkaitan erat dengan fungsi perencanaan karena pengorganisasian pun harus direncanakan.

                        Selanjutnya, setelah menerapkan fungsi perencanaan dan pengorganisasian adalah menerapkan fungsi pengarahan yang diartikan dalam kata yang berbeda-beda seperti actuating, leading, commanding, tetapi mempunyai tujuan yang sama yaitu untuk mengarahkan semua karyawan agar mau bekerjasama dan bekerja efektif untuk mencapai tujuan organisasi.

                        Akan tetapi, juga ada penambahan fungsi pengoordinasian (coordinating) setelah fungsi setelah fungsi pengarahan. Fungsi pengoordinasian untuk mengatur karyawan agar dapat saling bekerjasama sehingga terhindar dari kekacauan, percekcokan dan kekosongan kerja.

                        Selanjutnya fungsi terakhir dalam proses manajemen adlah pengendalian (controlling). Pada fungsi manajemen ini, penulis lebih cenderung memakai fungsi manajemen menurut George R. Terry.

                        Adapaun fungsi manajemen menurut George R Terry adalah sebagai berikut.

1)        Perencanaan (planning)

         Perencanaan tidak lain merupakan kegiatan untuk menetapkan tujuan yang akan dicapai beserta cara-cara untuk mencapai tujuan tersebut. Sebagaimana disampaikan T. Hani Handoko  mengemukakan bahwa : “ Perencanaan (planning) adalah pemilihan atau penetapan tujuan organisasi dan penentuan strategi, kebijaksanaan, proyek, program, prosedur, metode, sistem, anggaran dan standar yang dibutuhkan untuk mencapai tujuan. Pembuatan keputusan banyak terlibat dalam fungsi ini”.[13])

         Arti penting perencanaan terutama adalah memberikan kejelasan arah bagi setiap kegiatan, sehingga setiap kegiatan dapat diusahakan dan dilaksanakan seefisien dan seefektif mungkin. Indriyo Gito Sudarmo dan Agus Mulyono mengemukakan langkah-langkah pokok dalam perencanaan, yaitu: [14])

a)        Penentuan tujuan dengan memenuhi persyaratan sebagai berikut.

1.      Menggunakan kata-kata yang sederhana,

2.      Mempunyai sifat fleksibel,

3.      Mempunyai sifat stabilitas,

4.      Ada dalam perimbangan sumber daya,

5.      Meliputi semua tindakan yang diperlukan.

b)        Pendefinisian gabungan situasi secara baik, yang meliputi unsur sumber daya manusia, sumber daya alam, dan sumber daya modal.

c)        Merumuskan kegiatan yang akan dilaksanakan secara jelas dan tegas.

         Hal senada dikemukakan pula oleh T. Hani Handoko bahwa terdapat empat tahap dalam perencanaan, yaitu:[15])

a)         Menetapkan tujuan atau serangkaian tujuan;

b)        Merumuskan keadaan saat ini;

c)         Mengidentifikasi segala kemudahan dan hambatan;

d)        Mengembangkan rencana atau serangkaian kegiatan untuk pencapaian tujuan

2)        Pengorganisasian (organizing)

         Fungsi manajemen berikutnya adalah pengorganisasian (organizing). George R. Terry mengemukakan bahwa: “Pengorganisasian adalah tindakan mengusahakan hubungan-hubungan kelakuan yang efektif antara orang-orang, sehingga mereka dapat bekerja sama secara efisien, dan memperoleh kepuasan pribadi dalam melaksanakan tugas-tugas tertentu, dalam kondisi lingkungan tertentu guna mencapai tujuan atau sasaran tertentu”.[16])

         Hal yang penting untuk diperhatikan dalam pengorganisasian adalah bahwa setiap kegiatan harus jelas siapa yang mengerjakan, kapan dikerjakan, dan apa targetnya.

         Ernest Dale seperti dikutip oleh T. Hani Handoko mengemukakan tiga langkah dalam proses pengorganisasian, yaitu: [17])

a)         Pemerincian seluruh pekerjaan yang harus dilaksanakan untuk mencapai tujuan organisasi;

b)        Pembagian beban pekerjaan total menjadi kegiatan-kegiatan yang logik dapat dilaksanakan oleh satu orang;

c)         Pengadaan dan pengembangan suatu mekanisme untuk mengkoordinasikan pekerjaan para anggota menjadi kesatuan yang terpadu dan harmonis.

3)        Pelaksanaan/Penggerakkan (actuating)

            Dari seluruh rangkaian proses manajemen, pelaksanaan (actuating) merupakan fungsi manajemen yang paling utama. Dalam fungsi perencanaan dan pengorganisasian lebih banyak berhubungan dengan aspek-aspek abstrak proses manajemen, sedangkan fungsi actuating justru lebih menekankan pada kegiatan yang berhubungan langsung dengan orang-orang dalam organisasi.

            Dalam hal ini, George R. Terry mengemukakan bahwa actuating merupakan usaha menggerakkan anggota-anggota kelompok sedemikian rupa hingga mereka berkeinginan dan berusaha untuk mencapai sasaran perusahaan dan sasaran anggota-anggota perusahaan tersebut oleh karena para anggota itu juga ingin mencapai sasaran-sasaran tersebut. [18])

            Dari pengertian di atas, pelaksanaan (actuating) tidak lain merupakan upaya untuk menjadikan perencanaan menjadi kenyataan, dengan melalui berbagai pengarahan dan pemotivasian agar setiap karyawan dapat melaksanakan kegiatan secara optimal sesuai dengan peran, tugas dan tanggung jawabnya.

4)        Pengawasan (controlling)

            Pengawasan (controlling) merupakan fungsi manajemen yang tidak kalah pentingnya dalam suatu organisasi. Semua fungsi terdahulu, tidak akan efektif tanpa disertai fungsi pengawasan.

            Robert J. Mocker sebagaimana disampaikan oleh T. Hani Handoko mengemukakan definisi pengawasan yang di dalamnya memuat unsur esensial proses pengawasan, bahwa : “Pengawasan manajemen adalah suatu usaha sistematik untuk menetapkan standar pelaksanaan dengan tujuan – tujuan perencanaan, merancang sistem informasi umpan balik, membandingkan kegiatan nyata dengan standar yang telah ditetapkan sebelumnya, menentukan dan mengukur penyimpangan-penyimpangan, serta mengambil tindakan koreksi yang diperlukan untuk menjamin bahwa semua sumber daya perusahaan dipergunakan dengan cara paling efektif dan efisien dalam pencapaian tujuan-tujuan perusahaan.” [19])

            Dengan demikian, pengawasan merupakan suatu kegiatan yang berusaha untuk mengendalikan agar pelaksanaan dapat berjalan sesuai dengan rencana dan memastikan apakah tujuan organisasi tercapai. Apabila terjadi penyimpangan di mana letak penyimpangan itu dan bagaimana pula tindakan yang diperlukan untuk mengatasinya.

            Selanjutnya dikemukakan pula oleh T. Hani Handoko bahwa proses pengawasan memiliki lima tahapan, yaitu: [20])

a.         Penetapan standar pelaksanaan;

b.        Pengukuran pelaksanaan kegiatan nyata;

c.         Pembandingan pelaksanaan kegiatan dengan standar dan penganalisaan penyimpangan-penyimpangan;

d.        Pengambilan tindakan koreksi, bila diperlukan.

3.    Istilah Mutu

                        Istilah bermutu sering diperbincangkan dalam kehidupan sehari-hari, umumnya digunakan dalam arti “bermutu baik”, misalnya sekolah bermutu, pesantren bermutu, makanan bermutu atau pelayanan bermutu dan lain-lain. Dalam bahasa inggris juga demikian: “quality food quality service,” jadi tidak selalu disebut kata “baik” atau “ good” atau good quality”. Dalam pemahaman umum, mutu berarti “sifat yang baik” atau “ goodness”. Tapi yang dimaksud dengan “sifat yang baik” tidak selalu jelas, tolok ukurnya perlu diteliti.[21])

                        Dalam perbincangan sehari-hari, istilah “bermutu” umumnya digunakan dalam arti “bermutu baik”, misalnya sekolah bermutu, makanan bermutu, atau pelayanan bermutu dan lain-lain. Menurut Suryadi Mutu dalam arti relatif, ukuran mutu adalah kebutuhan pelanggan. Dengan kata lain, pelanggan pada hakikatnya ikut menentukan mutu, jadi bukan hanya produsen yang menentukannya kebutuhan pelanggan berubah sesuai dengan perkembangan dan kebutuhan masyarakat. Sedangkan menurut Juran mengemukakan bahwa: Mutu adalah keseuaian dengan tujuan atau manfaatnya.[22])

                        Dengan demikian, secara umum pengertian mutu adalah gambaran dan karakteristik menyeluruh dari barang atau jasa yang menunjukkan kemampuannya dalam memuaskan kebutuhan yang diharapkan atau yang tersirat.[23])

4.    Mutu Dalam Pendidikan

                        Adapun mutu dalam pendidikan dengan definisi yang relatif mempunyai dua aspek: a) pengukuran kemampuan lulusan sesuai dengan tujuan sekolah yang ditetapkan dalam kurikulum, b) pengukuran terhadap pemenuhan kebutuhan dan tuntutan pelanggan, yaitu orang tua siswa dan masyarakat.

                        Orientasi pada mutu sangat panting bagai sebuah organisasi atau lembaga pendidikan. Ada beberapa alasan pentingnya mutu bagai sekolah atau lembaga pendidikan. Russel mengidentifikasi enam peran pentingnya mutu: 1. Meningkatkan reputasi organisasi, 2. Menurunkan biaya, 3. Meningkatkan pangsa pasar, 4. Dampak internasional, 5. Adanya pertanggungjawaban produk, 6. Untuk penampilan produk, 7. Mewujudkan mutu yang dirasakan penting.

                        Mutu dalam pendidikan memiliki Karakteristik yang khas, karena pendidikan bukanlah industri. Dalam pendidikan, produk pendidikan itu bukanlah goods (barang) tetapi services (layanan). Pemakai (pelanggan) pendidikan ada yang bersifat internal dan ekternal. Guru dan siswa adalah pemakai jasa pendidikan yang bersifat internal. Sedangkan orang tua, masyarakat dan dunia kerja adalah pemakai eksternal jasa pendidikan. pemakai ini perlu mendapat perhatian karena mutu dalam pendidikan harus memenuhi kebutuhan, harapan, dan keinginan semua pemakai (stakeholders). Dalam hal ini pemakai yang menjadi fokus utama pendidikan adalah “leaners” (peserta didik). Peserta didik yang menjadi alasan utama diselenggarakan pendidikan, dan peserta didik pula yang menyebabkan keberadaan lembaga maupun sistem pendidikan.

                        Menurut Sallis dalam pendidikan yang termasuk pelanggan internal (internal customer) dan ekternal (external customer). Internal: guru, karyawan, pelajar, orang tua siswa. Ekternal : perguruan tinggi, industri, bisnis, perusahaan, militer dan masyarakat luas. Pelanggan pendidikan perlu dipahami oleh pengelola, kepala sekolah dan tenaga kependidikan lainnya untuk bekerjasama mewujudkan mutu pendidikan.

 

B.       Manajemen Mutu Pendidikan di Pesantren

1.    Pengertian Pesantren

                        Ada beberapa istilah yang ditemukan dan sering digunakan untuk menunjuk jenis pendidikan Islam tradisional khas Indonesia yang disebut lebih terkenal disebut pesantren. Di Jawa termasuk Sunda dan Madura, umumnya dipergunakan istilah pesantren atau pondok atau pondok pesantren.[24])

                        Di Aceh dikenal dengan istilah dayah atau rangkang atau meunasah, sedang di Minangkabau disebut surau.[25])

                         Secara terminologi, dapat dikemukakan di sini beberapa pandangan yang mengarah pada definisi pesantren. Abdurrahman Wahid, memaknai pesantren secara teknis: a place where santri (student) live.[26])

                        Sedangkan Abdurrahman Mas’ud mengemukakan bahwa pesantren adalah: the word pesantren stems from “santri” which means one who seeks Islamic knowledge. Usually the word pesantren refers to a place where the santri devotes most of his or her time in and acquire knowledge.[27])

                        Dua definisi tersebut menunjukkan betapa pentingnya sosok pesantren sebagai sebuah totalitas lingkungan pendidikan di dalam makna dan nuansanya secara menyeluruh.

            Pesantren atau pondok adalah lembaga yang bisa dikatakan merupakan wujud proses wajar perkembangan sistem pendidikan nasional. Dari segi historis, pesantren tidak hanya identik dengan makna keislaman,tetapi juga mengandung makna keaslian Indonesia.[28])

                        Kata pondok berasal dari pengertian asrama-asrama para santri atau tempat tinggal yang terbuat dari bambu atau berasal dari kata Arab fundaq yang berarti hotel atau asrama. Istilah pesantren berasal dari kata santri dengan awalan pe di depan dan akhiran an berarti tempat tinggal para santri atau dimaknai suatu tempat di mana santri atau pelajar tinggal.[29])

2.    Tipologi Pesantren

                        Ciri-ciri atau karakteristik pesantren adalah sebagai mana yang di utarakan oleh Samsul Nizar bahwa pesantren memiliki karakteristik yang berbeda dari lembaga pendidikan yang lain, diantaranya adalah:[30])

a.    Segi materi dan metode pengajaran

          Pesantren pada mulanya, hanya mengajarkan materi agama.Adapun metode yang digunakan dalam pesantren ialah model wetonan, yakni metode di mana santri duduk disekeliling kiyai, dan santri menyimak kitab dan juga mencatat jika ada yang perlu dicatat. Metode sorogan, yakni metode di mana santri menghadap kepada kiyai satu persatu dengan membawa kitab, metode ini dirasa paling sulit dibanding dengan metode yang lainnya.

b.    Segi jenjang pendidikan

        Dalam pesantren ditandai pada penguasaan dan pemahaman kitab-kitab klasikyang telah ditetapkan

c.    Segi fungsi pesantren

        Sebagai model pendidikan tertua di Indonesia Pesantren memiliki beberapa fungsi yang sangat fundamental diantaranya: lembaga pendidikan, lembaga sosial, dan lembaga penyiaran keagamaan.

d.   Kehidupan santri dan kiyai

        Berdirinya pesantren bermula dari adanya seorang kiyai yang menetap yang kemudian diikuti oleh seorang santri yang ingin belajar dan juga bermukim bersama kiyai.Sedang biaya kehidupan dan pendidikannya ditanggung bersama oleh para santri dan dukungan dari masyarakat di sekitarnya. Hal demikian memungkinkan bagi pesantren untuk menstabilkan kehidupannya tanpa adanya pengaruh dari ekonomi di luar.

                        Ciri-ciri tersebut gambaran dari pesantren yang masih murni. Seiring dengan perkembangan zaman pesantren telah terdorong untuk melakukan perubahan terus menerus. Akibat dari perubahan tersebut, pesantren saat ini dibedakan menjadi beberapa bentuk.

                        Dalam perkembangannya hingga kini, pesantren sebagai tempat para santri menuntut ilmu setidaknya telah dibuat tipologinya menjadi dua kelompok. Pertama, tipologi pesantren dibuat berdasarkan elemen yang dimiliki. Kedua, tipologi pesantren didasarkan pada lembaga pendidikan yang diselenggarakannya.

                        Pesantren Salafiyah, menurut Husni Rahim, adalah pesantren yang menyelanggarakan sistem pendidikan Islam non-klasikal dengan metode bandongan dan sorogan dalam mengkaji kitab-kitab klasik (kuning) yang ditulis dalam bahasa Arab oleh ulama-ulama pada abad pertengahan. Sedangkan pesantren Khalafiyah adalah pesantren yang mengadopsi sistem pendidikan klasikal dengan kurukulum tertata, mengintegrasikan pengetahuan umum.[31])

                        Assegaf berpendapat bahwa ciri pesantren salafiyah adalah non-klasikal, tradisional dan mengajarkan murni agama Islam, sedangkan pesantren yang berpola khalafiyah mempunyai lembaga pendidikan klasikal, modern, dan memasukan mata pelajaran umum dalam madrasah yang dikembangkannya. Aktivitas pesantren tradisional difokuskan pada tafaqquh fi addin, yakni pendalaman pengalaman, perluasan, dan penguasaan khazanah ajaran Islam. Sedangkan pesantren yang telah memasukan pelajaran umum di madrasah yang dikembangkannya atau membuka sekolah umum, dan tidak mengajarkan kitab Islam klasik, disebut pesantren khalafiyah atau modern.[32])

                        Berbeda dengan pendapat di atas, Wardi Bakhtiar memasukan madrasah diniyah sebagai lembaga pendidikan yang diselenggarakan oleh pesantren salafiyah. Menurutnya, pesantren salafiyah, yaitu yang mengajarkan kitab-kitab Islam klasik. Sistem madrasah diterapkan untuk mempermudah teknik pengajaran sebagai pengganti metode sorogan. Pada pesantren ini tidak diajarkan pengetahuan umum. Sedangkan pesantren khalafiyah, selain memberikan pengajatran kitab Islam klasik juga membuka sistem sekolah umum di lingkungan dan di bawah tanggungjawab pesantren.[33])

                                Salah satu kekurangan dunia pesantren hingga dewasa ini adalah kurangnya pengembangan pemikiran analitis (nazhariyyah) dalam membaca tradisi teks kitab kuning. Sebaliknya, tradisi membaca kitab kuning yang semakin berkembang adalah aspek hafalan dan pemahaman tekstualnya yang terkenal sangat kuat. Padahal, sesungguhnya sebuah komunitas bisa mengembangkan kemandirian berpikirnya bila tradisi membaca yang dikembangkannya membuka seluas-luasnya dinamisasi penalaran.[34])

3.    Mutu Pendidikan di Pesantren

                        Salah satu indikator dari pendidikan bermutu adalah kemampuan institusi pendidikan tersebut melahirkan sumberdaya manusia yang bermutu. Ada pun ciri sumber daya yang bermutu adalah manusia yang memiliki kemampuan prakarsa, kerja sama, kerja tim, pelatihan kesejawatan, penilaian, komunikasi, penalaran, pemecahan masalah, pengambilan keputusan, penggunaan informasi, perencanaan keterampilan belajar dan keterampilan multibudaya.[35])

                        Pendidikan bermutu dapat dilihat dari sisi prestasi siswa, proses pembelajaran, kemampuan lulusan dalam mengembangkan potensinya di masyarakat serta dalam hal memecahkan masalah dan berpikir kritis. Oleh karena itu, perlu mengkaji mutu dari segi proses, produk, maupun sisi internal dan kesesuaian. Mutu dilihat dari proses adalah efektivitas dan efisiensi seluruh faktor berperan dalam proses pendidikan. Faktor-faktor tersebut misalnya, kualitas pendidik, sarana prasarana, suasana belajar, kurikulum yang dilaksanakan, dan manajemen pengelolaannya.[36])

                        Faktor-faktor tersebut yang akan membedakan mutu pendidikan pesantren, dan mutu proses pendidikan dengan sendirinya akan berpe-ngaruh terhadap lulusannya. Lulusan dari pesantren yang mempunyai faktor-faktor yang mendukung proses pembelajaran bermutu tinggi akan mempunyai pengetahuan, keterampilan, dan kemampuan yang tinggi pula. Atau dengan kata lain, pendidikan yang bermutu pada dasarnya akan menghasilkan sumber daya manusia yang bermutu pula.

                        Untuk memosisikan dirinya sebagai industri jasa, pendidikan di pesantren harus memiliki kriteria-kriteria tertentu yang menjadi karakteristik pesantren bermutu. Jerome S. Arcaro mengemukakan lima karakteristik pendidikan bermutu, yang diidentifikasi sebagai pilar mutu, yaitu:[37])

a.         Visi mutu difokuskan pada pemenuhan kebutuhan customer, baik customer internal (orang tua, santri, ustadz, dan pengurus pesantren yang berada dalam sistem pendidikan) maupun customer eksternal (pihak yang memanfaatkan output proses pendidikan).

b.         Mendorong keterlibatan total komunitas dalam program. Setiap orang harus berpartisipasi dalam transformasi mutu. Mutu bukan hanya tanggung jawab dewan sekolah atau pengawas, tapi mutu merupakan tanggung jawab semua pihak.

c.         Mengembangkan sistem pengukuran nilai tambah pendidikan.

d.        Menunjang sistem yang diperlukan oleh staf dan siswa untuk mengelola perubahan dengan memiliki komitmen pada mutu.

e.         Perbaikan berkelanjutan dengan selalu berupaya keras membuat produk pendidikan menjadi lebih baik

                        Oleh karena itu, pendidikan di pesantren selain menyiapkan berbagai sumber daya untuk menyiapkan santri yang pandai dalam bidang ilmu keagamaan dan memiliki perilaku yang agamis, namun juga harus menyiapkan ber-bagai sumber daya yang membuat santri pandai dalam berbagai ilmu pengeta-huan, teknologi, olahraga, dan seni.

                        Di samping itu, pesantren selain dituntut untuk memperkuat penanaman nilai-nilai spiritual kepada para santri, juga dituntut untuk mem-perkaya penanaman aspek tanggung jawab, rasionalitas, dan pemecahan masalah. Tanggung jawab pada konteks ini diartikan sebagai sikap konsisten dan disiplin melaksanakan apa yang benar.

                        Keberadaan pesantren merupakan partner bagi institusi pemerintah untuk bersama-sama meningkatkan mutu pendidikan yang ada sebagai basis bagi pelaksanaan transformasi sosial melalui penyediaan sumber daya manusia yang qualified dan berakhlakul karimah. Terlebih lagi, proses transformasi sosial di era otonomi, mensyaratkan daerah lebih peka menggali potensi lokal dan kebutuhan masyarakatnya sehingga kemampuan yang ada dapat dioptimalkan.

                        Dengan demikian, maka pesantren bekerja keras untuk memperbaiki segala kekurangannya dan menambah hal-hal yang baru yang menjadi kebutuhan umat sekarang ini. Sebab, model pendidikan pesantren yang mendasarkan diri pada sistem konvensional atau klasik tidak akan banyak membantu dalam penyediaan sumber daya manusia yang memiliki kompetensi integratif baik dalam penguasaan pengetahuan agama, pengetahuan umum dan kecakapan teknologis.[38])

                        Dalam konteks inilah, pesantren sebagai lembaga religius sosiokultural dapat memerankan dirinya sebagai sebuah lembaga lembaga agen perubahan sosial sekaligus sebagai filter budaya. Namun demikian, secara jujur harus diakui masih banyak pesantren yang dapat dikatakan “belum siap” jika dikaitkan dengan tuntutan era global, terutama sekali yang berhubungan dengan sains dan teknologi. Kebanyakan pesantren yang ada sekarang, masih berorientasi pada pemenuhan kebutuhan agama. Realiltas menunjukkan bahwa terdapat tiga kecenderungan produk pesantren dalam pasar kerja, yaitu: [39])

a.    Lulusan pesantren masih kalah bersaing dalam menjemput pasar pengembangan SDM dengan lulusan di luar pesantren.

b.    Kepercayaan pasar (masyarakat) terhadap lulusan pesantren terkait dengan lapangan kerja masih dipertanyakan.

c.    Pengembangan SDM masih dikuasai penuh oleh masyarakat di luar pesantren.

                        Dengan perkataan lain, bahwa pesantren yang ada saat ini masih banyak yang berkonsentrasi pada peningkatan wawasan dan pengalaman keagamaan. Hal ini tentu saja menjadi kendala sendiri tatkala santri lulus dari pesantren, mereka tidak berdaya saing tinggi jika dibandingkan dengan lulusan lembaga pendidikan lainnya. Keahlian dan keterampilan merupakan sesuatu yang tidak bisa ditawar lagi dan harus dimiliki santri, sehingga mereka tampil sebagai lulusan yang memiliki wawasan keagamaan yang kuat serta berdaya saing tinggi di bidang sains teknologi. Dengan demikian, pesantren di era global dikenal sebagai lembaga pusat pengembangan agama dan sains teknologi.

                        Berdasarkan pembahasan di atas maka dapat disimpulkan bahwa manajemen mutu pesantren merupakan suatu proses yang meliputi serangkaian tindakan, dimana unsur-unsur dan fungsifungsi manajemen dipekerjakan se-efisien dan efektif mungkin dengan bantuan orang lain yang bertujuan untuk mencapai goals dan sasaran yang telah ditentukan pesantren sesuai dengan kebutuhan dan kepuasan pelanggan serta berdasarkan atau melebihi standarkan yang telah ditetapkan mulai dari input, proses, sampai pada output pendidikan.[40])

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB III

PENUTUP

 

A.      Kesimpulan

              Berdasarkan pembahasan di atas, maka kesimpulan penulisan makalah ini adalah sebagai berikut.

1.         Manajemen mutu pesantren merupakan suatu proses yang meliputi serangkaian tindakan, dimana unsur-unsur dan fungsifungsi manajemen dipekerjakan se-efisien dan efektif mungkin dengan bantuan orang lain yang bertujuan untuk mencapai goals dan sasaran yang telah ditentukan pesantren sesuai dengan kebutuhan dan kepuasan pelanggan serta berdasarkan atau melebihi standarkan yang telah ditetapkan mulai dari input, proses, sampai pada output pendidikan.

2.         Pendidikan bermutu dapat dilihat dari sisi prestasi siswa, proses pembelajaran, kemampuan lulusan dalam mengembangkan potensinya di masyarakat serta dalam hal memecahkan masalah dan berpikir kritis. Oleh karena itu, perlu mengkaji mutu dari segi proses, produk, maupun sisi internal dan kesesuaian. Mutu dilihat dari proses adalah efektivitas dan efisiensi seluruh faktor berperan dalam proses pendidikan. Faktor-faktor tersebut misalnya, kualitas pendidik, saranaprasarana, suasana belajar, kurikulum yang dilaksanakan, dan manajemen pengelolaannya.

 

B.       Kata Penutup

          Alhamdulillah, puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah memberikan petunjuk dan inayah-Nya sehingga saya dapat menyelesaikan makalah ini. Sholawat serta salam semoga selalu tercurahkan kepada junjungan kita Nabi agung Muhammad SAW yang selalu menjadi uswatun hasanah dan yang kita harapkan syafa’atnya di hari akhir.

          Penulis menyadari sepenuhnya, bahwa dalam penulisan makalah ini masih banyak kekurangan dan jauh dari kesempurnaan, Untuk itu, penulis mengharap kritik dan saran yang dapat membangun untuk lebih baik lagi. Ucapan maaf penulis sampaikan, seraya berdoa semoga makalah ini dapat bermanfaat untuk semua kalangan terutama untuk kemajuan di bidang pendidikan.

          Penulis ucapkan terimakasih kepada semua pihak yang telah membantu saya dalam penyusunan makalah ini. Dan semoga bantuan tersebut bernilai ibadah dihadapan Allah SWT. Aamiin.

 



                        [1]) Khoiriyah, Memahami Metodologi Studi Islam, (Yogyakarta: Sukses, 2013), hal., 46.

 

                [2])  Ibid., hal., 34.

 

                        [3]) M. Kharis Fadillah Manajemen Mutu Pendidikan Islam (Studi di Pondok Modern Darussalam Gontor), Vol 4 No. 1, Juni 2015, (Malang: UIN Maulana Malik Ibrahim, 2015), hal., 118.

.

                [4])  Ibid., hal., 119.

 

                        [5]) Ida Zusnani, Manajemen Pendidikan Berbasis Karakter Bangsa, (Yogyakarta: Suka Buku, 2012), hal., 9.

 

 

                        [6]) Suryosubroto, Manajemen Pendidikan di Sekolah, (Jakarta: Rineka Cipta, 2010), hal., 23.

                        [7]) Ibid., hal., 25

 

                        [8]) Ahmad Janan Asifudin, Jurnal Manajemen Pendidikan Islam, Volume 1, Nomor 2, Manageria: November 2016, hal., 357.

 

                        [9]) Muhibbin Syah, Psikologi Pendidikan, (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2010), hal., 10.

 

                        [10]) Ibid., hal., 11.

 

                        [11]) Anas Salahudin and Irwanto Alkrienciehie, Pendidikan Karakter, (Bandung: Pustaka Setia, 2013), hal., 41.

 

                        [12]) Suryosubroto, Op. Cit, hal., 45.

 

                        [13]) Ibid., hal., 50.

 

                        [14]) Ibid., hal., 51.

 

                        [15]) Ibid., hal., 52.

 

                        [16]) Ibid.

 

                        [17]) Ibid., hal., 53.

 

                        [18]) Ibid., hal., 55.

 

                        [19]) Ibid., hal., 56.

 

                        [20]) Ibid., hal., 58.

 

                        [21]) Ijudin, Pengemangan Konse Mutu Pendidikan, Vol 09, No 01, Uniga 2015, hal., 19.

 

                        [22]) Ibid.

 

                        [23]) Ibid.

 

                        [24]) Ijudin, Op.Cit.,, hal., 19.

 

                        [25]) Ibid.

 

                        [26]) Ibid.

 

                        [27]) Ibid.

 

                [28]) Khoiriyah, Memahami Metodologi Studi Islam, (Yogyakarta: Sukses, 2013), hal., 34.

 

                        [29]) Ibid.

.

                        [30]) Ah. Husain Ma’ruf & Jasminto, Upaya Peningkatan Mutu Pendidikan Pesantren Tradisional Di Era Millenial, Jurnal Piwulang, Vol. 2 No. 1 September 2019, hal., 53.

.

                        [31]) Ijudin, Op.Cit., hal., 20.

 

                        [32]) Ibid.

 

                        [33]) Ibid.

 

                        [34]) Muhajir, Pesantren Seagai Instiusi Pendidikan Islam, Vol.1 No. 2, Jurnal Saitifika Islamica Desemer 2014, hal., 13.

 

                        [35]) Siswanto, Jurnal Sosial dan Budaya Keislaman. Vol. 23 No. 2, Karsa, Desember 2015, hal.., 261.

 

                        [36]) Ibid.

 

                        [37]) Ibid.

 

                        [38]) Imam Syafe’I,  Al-Tadzkiyyah: Jurnal Pendidikan Islam, Volume 8, No I 2017, hal., 79.

 

                        [39])  Fahrurrozi, Manajemen Mutu Pesantren; Ikhtiar Menjawab Tantangan Global, hal.,11.

 

                        [40]) M. Kharis Op.Cit., hal., 1110.

.

Comments

Popular posts from this blog

CONTOH SK PENGEMBANG KURIKULUM DAN NOTULEN

URGENSI MANAJEMEN SUMBER DAYA MANUSIA DALAM ORGANISASI

SOAL UP PENDIDIKAN PROFESI GURU (PPG)