Masa Nabi Muhammad SAW



BAB I
PENDAHULUAN

A.     Latar Belakang Masalah
Gurun tandus yang di kelilingi gurun pasir dan gunung-gunung, yang mana pada masa itu kehidupan manusia sangatlah buruk, sehingga disebutlah pada masa itu dengan zaman jahiliyah atau zaman kebodohan manusia, dilahirkanlah seorang manusia pilihan, yang merupakan pembawa cahaya iman, sebagai panutan akhlak yang mulia bagi umat manusia dan jin sampai akhir kehidupan di dunia ini.
Beliau adalah bernama MUHAMMAD SAW, seorang manusia pilihan yang dilahirkan dengan penuh kemuliaan hingga akhir hayatnya. dari betapa agungnya beliau. Mulai dari lahir hingga wafatnya selalu penuh dengan kemuliaan. Beliau selalu memikirkan tentang umatnya.
Melihat begitu menariknya kisah Nabi Muhammad SAW, maka itu penulis berminat untuk mengangkat tema tersebut dalam makalah yang berisikan tentang sejarah perjalanan hidup Nabi Muhammad SAW. Namun, jika dalam makalah ini masih banyak kekurangan dan kekeliruan baik dalam penyusunan kalimat, karena keterbatasan pengetahuan penulis dan masih kurangnya buku-buku pendukung dalam penulisan ini.

B.     Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang maka rumusan masalah dalam penulisan makalah ini adalah sebagai berikut.
1.      Bagaimana sejarah kelahiran Nabu Muhammad SAW?
2.      Bagaimana proses pengangkatan Nabi Muhammad SAW menjadi rosul?
3.      Bagaimanakah hijahnya Nabi Muhammad SAW?
4.      Bagaimana kisah yang terjadi pada haji wada?
5.      Bagaimana saat Nabi Muhammad wafat?


C.     Tujuan
Berdasarkan rumusan masalah di atas, maka tujuan dari pembuatan makalah ini adalah sebagai berikut.
1.      Mendeskripsikan proses kelahiran Nabi Muhammad SAW.
2.      Mendeskripsikan proses pengangkatan Nabi Muhammad SAW menjadi rosul.
3.      Menjelaskan hijrah Nabi ke Madinah.
4.      Mendeskripsikan peristiwa yang terjadi saat haji wada.
5.      Menjelaskan peristiwa saat Nabi Muhammad wafat.






















BAB II
PEMBAHASAN

A.     Kelahiran Nabi Muhammad SAW
Nabi Muhammad dilahirkan di Makkah pada hari senin tanggal 12 rabi’ul awal 570 M dan disebut juga sebagai tahun gajah. Penamaan tahun gajah berkaitan dengan peristiwa pasukan gajah yang dipimpin oleh Abrahah, Gubernur Krajaan Habsy yang ingin menghancurkan Ka’bah yang berada kota Mekkah dengan menunggangi Gajah, maka tahun itu sebut dengan tahun Gajah. Nabi Muhammad adalah anggota dari bani Hasyim. Keluarga Nabi Muhammad merupakan keluarga terhormat namun tergolong keluarga miskin. Nabi Muhammad putra dari pasangan Abdullah bin  Abdul muthalib dengan Aminah binti Wahab. Ketika Nabi Muhammad s.a.w. masih. di dalam kandungan ibunya, Abdullah, ayahnya, pergi ke negeri Syam (Siria) untuk berdagang. Tetapi, sepulang dari sana, ketika sampai di kota Madinah, ia menderita sakit dan Ayah Nabi Muhammad meninggal dunia ketika Nabi Muhammad masih dalam kandungan ibunya.[1]
 Nama Muhammad diberikan oleh kakeknya, Abdul Muttalib. “Muhammad” dalam bahasa Arab berarti “dia yang terpuji”.Muslim mempercayai bahwa ajaran Islam yang dibawa oleh Muhammad adalah penyempurnaan dari agama-agama yang dibawa oleh nabi-nabi sebelumnya.[2] Mereka memanggilnya dengan gelar Rasulullah dan menambahkan kalimat “Sallallaahu Alayhi Wasallam” yang berarti “semoga Allah memberi kebahagiaan dan keselamatan kepadanya” sering disingkat “S.A.W” atau “SAW” setelah namanya. Selain itu Al-Qur’an dalam Surah As-Saff (QS 61:6) menyebut Muhammad dengan nama “Ahmad”, yang dalam bahasa Arab juga berarti “terpuji” As-Saff (QS 61).
“Dan (ingatlah) ketika Isa Putra Maryam berkata: “Hai Bani Israel, sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu, membenarkan kitab (yang turun) sebelumku, yaitu Taurat dan memberi kabar gembira dengan (datangnya) seorang Rasul yang akan datang sesudahku, yang namanya Ahmad (Muhammad)” Maka tatkala rasul itu datang kepada mereka dengan membawa bukti-bukti yang nyata, mereka berkata: “Ini adalah sihir yang nyata”.[3]
Nabi Muhammad SAW adalah anggota Bani Hasyim, sebuah kabilah yang paling mulia dalam suku Quraisy yang mendominasi masyarakat Arab.Ayahnya bernama Abdullah Muttalib, seorang kepala suku Quraisy yang besar pengaruhnya. Ibunya bernama Aminah binti Wahab dari Bani Zuhrah.Baik dari garis ayah maupun garis ibu, silsilah Nabi Muhammad SAW sampai kepada Nabi Ibrahim ASdan Nabi Ismail AS.[4]
Tahun kelahiran Nabi Muhammad SAW dikenal dengan nama Tahun Gajah, karena pada tahun itu terjadi peristiwa besar, yaitu datangnya pasukan gajah menyerbu Mekkah dengan tujuan menghancurkan Ka’bah. Pasukan itu dipimpin oleh Abrahah, gubernur Kerajaan Habsyi di Yaman. Abrahah ingin mengambil alih kota Mekkah dan Ka’bahnya sebagai pusat perekonomian dan peribadatan bangsa Arab. Dalam penyerangan Ka’bah itu, tentara Abrahah hancur karena terserang penyakit yang mematikan yang dibawa oleh burung Ababil yang melempari tentara gajah.Abrahah sendiri lari kembali ke Yaman dan tak lama kemudian meninggal dunia.[5]
Peristiwa ini dikisahkan dalam Al-Qur’an surat Al-Fil: 1-5 “Apakah kamu tidak memperhatikan bagaimana Tuhanmu telah bertindak terhadap tentara bergajah?Bukankah Dia telah menjadikan tipu daya mereka (untukmenghancurkan Kakbah) itu sia-sia?Dan Dia mengirimkan kepada mereka burung yang berbondong-bondong,yang melempari mereka dengan batu (berasal) dari tanah yang terbakar, lalu Dia menjadikan mereka seperti daun-daun yang dimakan (ulat)”.[6]
Sudah menjadi suatu kebiasaan di Mekkah, anak yang baru lahir diasuh dan disusui oleh wanita desa dengan maksud supaya ia bisa tumbuh dalam pergaulan masyarakat yang baik dan udara yang lebih bersih. Saat itulah ada wanita bernama Halimah binti Abu Du’aib as Sa’diyah. Keluarga Halimah tergolong miskin, karena itu ia sempat merasa ragu untuk mengasuh Nabi Muhammad karena keluarga Aminah sendiri juga tidak terlalu kaya.[7]
Akan tetapi entah mengapa Nabi Muhammad yang masih bayi itu sangat menawan hatinya, sehingga akhirnya Halimah pun mengambil Nabi Muhammad SAW sebagai anak asuhnya.Ternyata kehadiran Nabi Muhammad SAW sangat membawa berkah pada keluarga Halimah. Jika pada saat itu  kambing peliharaan Haris, suami Halimah, bertubuh kurus-kurus, tetapi setelah memelihara rasulullah kambing-kambing tersebut menjadi gemuk-gemuk dan menghasilkan susu lebih banyak dari biasanya. Rumput tempat menggembala kambing itu juga tumbuh subur.Kehidupan keluarga Halimah yang semula suram berubah menjadi bahagia dan penuh kedamaian.Mereka yakin sekali bahwa bayi dari Mekkah yang mereka asuh itulah yang membawa berkah bagi kehidupan mereka.[8]
Setelah 2 tahun halimatus Sa’diyah mengasuh nabi. Halimatus Sa’diyah meminta 2 tahun lagi untuk mengasuh nabi, dan setelah di sepakati dalam rapat keluarga, halimatus Sa’diyah kembali mengasuh nabi 2 tahun lagi, hingga empat tahun lah halimatus Sa’diyah mengasuh nabi Muhammad,  maka Dengan berat hati Halimah terpaksa mengembalikan anak asuhnya yang telah membawa berkah itu, sementara Aminah sangat senang melihat anaknya kembali dalam keadaan sehat dan segar.[9]
 Dalam masa Pada saat Nabi Muhammad berusia 6 tahun, ibunya Aminah binti Wahab mengajaknya ke Yatsrib (Madinah) untuk mengunjungi keluarganya serta mengunjungi makam ayahnya.disana Aminah menceritakan perihal ayah nya Abdullah yang berdagang ke negeri Syam, dan jatuh sakit hingga wafat. Hal itu membawa kesedihan kepada nabi Muhammad, hingga peristiwa tersebut di sebut-sebut beliau setelah menjadi rasul dan hijrah ke Madinah.[10]
Setelah satu bulan beliau tinggal di madinah bersama ibunya, kemudian beliau kembali ke mekkah. Namun dalam perjalanan pulang, ibunya jatuh sakit.Setelah beberapa hari, Aminah meninggal dunia di Abwa’ yang terletak tidak jauh dari Yatsrib, dan dikuburkan di sana.
Setelah itu nabi Muhammad SAW di asuh oleh kakek dari ayahnya yang bernama Abdul Muthalib, Abdul Muthalib inilah yang memberi nama Muhammad kepada beliau.Kakek beliau ini adalah orang yang terpandang dan berwibawa dan sangat di segani serta di hormati oleh kaum Quraisy. Sekitar 2 tahun lamanya Abdul Muthalib mengasuh nabi, kemudiain kakek beliau tersebut meninggal. Sepeninggal abdul MuThalib, nabi muhammad ganti di asuh oleh pamannya yaitu Abu Thalib, yaitu anak dari Abdul Muthalib.[11]
Nabi Muhammad ikut untuk pertama kali dalam kafilah dagang ke syiria (syam) dalam usia baru 12 tahun. Kafilah itu dipimpin oleh Abu Tholib, dalam perjalanan ini, di Basroh sebelah selatan syiria ia bertemu dengan pendeta kristen bernama Buhairoh “Bahira”. Pendeta ini melihat tanda-tanda kenabian pada Muhammad sesuai dengan petunjuk cerita-cerita kristen yang terdapat pada kitab Taurat dan Injil.[12] Pendeta itu  pendeta itu menassehati Abu Tholib agar jangan terlalu jauh memasuki daerah syiria.  Sebab dikhawatirkan orang-orang Yahudi yang mengetahui tanda-tanda itu akan berbuat jahat terhadapnya. Maka di bawalah kembali nabi ke mekkah, dan di mekkah nabi bekerja dengan mengembala kan kambing-kambing keluarga dan kembing-kambing orang lain yang di percaya kan kepada nya. Setelah beliau dewasa, beliau berusaha sendiri dengan berdagang, beliau di kenal dengan pemuda yang jujur dalam berdagang. Mendengar hal itu Siti Khadijah seorang janda yang kaya lalu mempercayakan barang dagangan nya kepada beliau, selama beliau memperdagangkan barang dagangan siti Khadijah, maka semakin terkenalah kejujuran beliau, tidak hanya di mekkah bahkan sampai ke negeri syam dan lainnya.[13]
Dan semenjak mendengar hal itu, Siti Khadijah pun menaruh hati kepada Nabi Muhammad, dan berniat untuk menjadi kan nabi Muhammad sebagai suaminya. Untuk itu Khadijah mengutus seorang teman dekatnya dan menyampaikan nya kepada nabi, bahwa maksud kedatanganya ialah untuk menyampaikan pesan Siti Khadijah, mendengar hal tersebut, nabi merasa terkejut, dan berdebar-debar, lalu beliau berfikir sejenak serta bermusyawarah dengan keluarga, dan keluarga beliau pun setuju.[14]

B.     Nabi Muhammad Saw Menjadi Rasul Allah
Gua Hira, tempat diturunkannya kalimat Tuhan Yang Esa, kalimat yang membuat iblis berputus asa untuk menyesatkan manusia, kalimat yang dengannya alam semesta berguncang. Jibril diutus Allah SWT untuk menyampaikan kalimat-Nya secara berangsur-angsur kepada nabi yang berada di Gunung Hira'. Jibril datang kepadanya dengan membawa beberapa menyampaikan wahyu berupa Q.S Al-‘Alaq ayat 1-5.[15]
Setelah berdakwah kepada kaum kerabatnya secara sembunyi-sembuni, Nabi berdakwah terang-terangan kepada kaum Quraisy. Muhammad, berbekal kesabaran, keyakinan, kegigihan, dan keuletan dalam berdakwah terus-menerus dan tidak menghiraukan orang-orang musrik yang terus menghardik dan mengejeknya. Banyak yang cara yang dilakukan kaum Quraisy untuk menghentikan Muhammad, suatu saat Abu Tholib sedang duduk bersama keponakannya.[16]
Juru bicara rombongan yang mendatangi rumah Abu Tholib membuka pembicaraan dengan berkata,' Wahai Abu Tholib! Muhammad mencerai-beraikan barisan kita dan menciptakan perselisihan diantara kita. Ia merendahkan kita dan mencemooh kita dan berhala kita. Jika ia melakukan itu karena kemiskinan dan kepapaannya, kami siap menyerahkan harta berlimpah kepadanya.[17] Jika ia menginginkan kedudukan, kami siap menerimanya sebagai penguasa kami dan kami akan mengikuti perintahnya. Bila ia sakit dan membutuhkan pengobatan, kami akan membawakan tabib ahli untuk merawatnya.
Orang Quraisy meninggalkan rumah Abu Tholib dengan wajah dan mata terbakar kemarahan. Mereka terus memikirkan cara untuk mencapai tujuan mereka.
Banyak sekali contoh penganiayaan dan penyiksaan kaum Quraisy, Tiap hari nabi menghadapi penganiayaan baru.[18] Misalnya, suatu hari Uqbah bin Abi Mu'ith melihat Nabi bertawaf, lalu menyiksanya. Ia menjerat leher Nabi dengan serbannya dan menyeret beliau ke luar masjid. Beberapa orang datang membebaskan Nabi karena takut kepada Bani Hasyim. Dan masih banyak lagi.
Nabi menyadari dan prihatin terhadap kondisi kaum Muslim. Kendati beliau mendapat dukungan dan lindungan Bani Hasyim, kebanyakan pengikutnya budak wanita dan  pria serta beberapa orang tak terlindung.[19] Para pemimpin Quraisy menganiaya orang-orang ini terus-menerus, para pemimpin terkemuka berbagai suku menyiksa anggota suku mereka sendiri yang memeluk Islam. Maka ketika para sahabatnya meminta nasihatnya menyangkut hijrah.
Pasukan Syirik Quraisy kehabisan akal untuk menghancurkan Muhammad, maka mereka melakukan propaganda anti Muhammad, diantaranya mereka memfitnah Nabi, bersikeras menjuluki Nabi gila, larangan mendengarkan Al-Qur'an, menghalangi orang masuk Islam, sehingga Allah mengabadikan perkataan orang-orang keji ini dan menunjukkan sesatnya perkataan mereka.[20]
Kaum Quraisy pun gagal melakukan berbagai macam cara untuk menghalangi usaha Muhammad, dan menghalangi orang-orang untuk mengikuti agama Tuhan Yang Esa. Mereka pun melakukan Blokade ekonomi yang membuat banyak kaum muslim, terutama kaum wanita dan anak-anak kelaparan. Nabi dan para pengikutnya masuk ke Syi'ib Abu Tholib, yang diikuti pendamping hidupnya, Khodijah, dengan membawa serta Fatimah AS. Orang-orang Quraisy mengepung mereka di Syi''ib itu selama tiga tahun.[21]
            Dan akhirnya tahun-tahun blokade itu pun berakhir. Dan keluarlah sang bintang bersama keluarga dan sahabatnya dari pengepungan. Allah telah menetapkan kemenangan bagi mereka, dan Khodijah pun berhasil pula keluar dari pengepungan dalam keadaan amat berat dan menderita, Beliau telah hidup dengan kehidupan yang menjadi teladan Istimewa bagi kalangan kaum wanita. Ajal Khodijah sudah dekat. Allah telah memilihnya untuk mendampingi Rosulullah Saww., dan dia telah berhasil menunaikan tugas dengan baik. Khodijah akhirnya meninggal pada tahun itu juga. Yakni, pada saat kaum Muslim keluar dari blokade orang-orang Quraisy, tahun kesepuluh sesudah Kenabian.[22]
Pada tahun yang sama, paman Rosul (Abu Tholib) meninggal dunia, yang sekaligus sebagai pelindung dakwa Muhammad. Sungguh Nabi mengalami kesedihan yang amat berat. Beliau kehilangan Khodijah, dan juga pamannya yang menjadi pelindung, dan pembelanya. Itu sebabnya, maka tahun ini dinamakan 'Am Al-Huzn (Tahun Duka cita).
Bukan hanya Rosul yang terpukul hatinya, Fatimah, yang belum kenyang mengenyam kasih sayang seorang ibu dan kelembutan belaiannya, ikut pula menanggungnya. Kedukaan menyelimuti dan menindihnya di tahun penuh kesedihan itu.Fatimah kehilangan ibundanya, berpisah dari orang yang menjadi sumber cintanya dan kasih sayangnya.[23]
Kaum Quraisy yang berada di Mekah akhirnya membuat kesepakatan untuk membunuh Muhammad di malam hari, dan masing-masing suku mempunyai wakil, sehingga Bani Hasyim tidak dapat menuntut balas atas kematian Muhammad. Orang-orang ini memang bodoh, mereka mengira Muhammad dapat dihancurkan hanya dengan cara seperti ini, seperti urusan duniawi mereka. Jibril datang memberitahu Nabi tentang rencana kejam kaum kafir itu.[24]
Ali berbaring melewati cobaan yang mengerikan demi keselamatan Islam menggantikan Nabi, sejak sore. Ia bukan orang tua yang lanjut usia, tapi seorang anak muda yang begitu berani mengorbankan nyawanya untuk sang Nabi, ia, yang bersama Khodijah adalah orang yang pertama-tama beriman kepada Nabi, dialah orang yang rela berkorban untuk Nabi, Ali, sekali lagi '˜Ali. Kepadanya Nabi berkata,''Tidurlah di ranjang saya malam ini dan tutupi tubuh Anda dengan selimut hijau yang biasa saya gunakan, karena musuh telah bersekongkol membunuh saya. Saya harus berhijrah ke Yastrib.˜Ali menempati ranjang Nabi sejak sore. Ketika tiga perempat malam lewat, empat puluh orang mengepung rumah nabi dan mengintipnya melalui celah. Mereka melihat keadaan rumah seperti biasanya, dan menyangka bahwa orang yang sedang tidur di kamar itu adalah Nabi.[25]

C.     Nabi Muhammad Saw Hijrah
Nabi Saw hijrah ke Madinah pada tahun ke 13 kenabian yang bertepatan dengan tahun 622 M. Di dalam riwayat Ibnu Ishak dijelaskan bahwa beliau keluar dari rumahnya yang saat itu sedang dikepung oleh pasukan bersenjata kaum musyrik Makkah yang ingin membunuhnya.[26] Lalu Allah Swt menidurkan mereka. Sambil membaca QS. Yasin: 1-9 beliau manaruh pasir di kepala mereka semua, kemudian pergi ke rumah Abu Bakar untuk hijrah bersama ke kota Madinah. Nabi Muhammad saw tiba di Madinah pada hari Senin tanggal 12 Rabiul Awwal tahun 1 Hijriyah.
Tekanan orang-orang kafir terhadap perjuangan Rasulullah semakin hebat selepas kepergian isteri dan bapa saudara baginda. Maka Rasulullah mengambil keputusan untuk berhijrah ke Madinah berikutan ancaman daripada kafir Quraisy untuk membunuh baginda.
Rasulullah disambut dengan meriahnya oleh para penduduk Madinah. Mereka digelar kaum Muhajirin manakala penduduk-penduduk Madinah dipanggil golongan Ansar. Seruan baginda diterima baik oleh kebanyakan para penduduk Madinah dan sebuah negara Islam didirikan di bawah pimpinan Rasulullas s.a.w sendiri.

D.    Haji Wada
Tahun kesebelas Hijrah, haji pertama Nabi dan kaum Muslimin tanpa ada seorang musrik pun yang ikut didalamnya, untuk pertama kalinya pula, lebih dari 10.000 orang berkumpul di Madinah dan sekitarnya, menyertai Nabi melakukan perjalanan ke Makkah, dan sekaligus inilah haji terakhir yang dilakukan oleh Nabi.[27] Rombongan haji meninggalkan Madinah tanggal 25 Dzulqa'idah, Nabi disertai semua isterinya, menginap satu malam di Dzi Al-Hulaifah, kemudian melakukan Ihram sepanjang Subuh, dan mulai bergerak. Seluruh padang terisi gema suara mereka yang mengucapkan,"Labbaik, Allahumma labaik... Labbaik, la syarika laka! Aku datang memenuhi panggilanmu, Allahumma, ya Allah, aku datang memenuhi panggilan-Mu. Tiada sekutu bagi-Mu... Labbaik, aku datang memenuhi panggilan-Mu. Segala puji, kenikmatan, dan kemaharajaan, hanya bagi-Mu. Tiada sekutu bagi-Mu... Labbaik, aku datang memenuhi panggilan-Mu..."
Langit, hingga hari itu, belum pernah menyaksikan pemandangan di muka bumi seperti yang ada pada saat itu. Lebih dari 100.000 orang, laki-laki dan perempuan ' di bawah sengatan Matahari yang amat terik dan di padang pasir yang sebelumnya tak pernah dikenal orang ' bergerak menuju satu arah. Medan ini merupakan lukisan paling indah dari satu warna yang menghiasi kehidupan manusia.
Matahari tepat di tengah siang hari itu. Seakan-akan ia menumpahkan seluruh cahayannya yang memakar ke atas kepala semua orang. Nabi berdiri di depan lebih dari 100.000 orang. Laki-laki dan perempuan yang mengelilinginya. Nabi memulai pidatonya, Rosulullah berkata,'Tahukah kalian, bulan apa ini ?"
Mereka serentak menjawab,"Bulan Haram!.....
"Ayyuhan Nas, camkan baik-baik perkataanku. Sebab, aku tidak tahu, mungkin aku tidak lagi akan bertemu dengan kalian sesudah tahun ini, di tempat ini, untuk selama-lamanya... Ayyuhan Nas, sesungguhnya darah dan hartamu adalah haram bagimu hingga kalian menemui Tuhanmu sebagaimana diharamkannya hari dan bulanmu ini. Sesudah itu, kamu sekalian akan menemui Tuhanmu dan ditanya tentang amal-amalmu. Sungguh, aku telah sampaikan hal ini. Maka, barangsiapa yang masih mempunyai amanat, hendaknya segera disampaikan kepada orang yang berhak menerimanya”.[28]
Akar-akar syirik telah dihapuskan dari Mekah, dan Mekah menjadi sebuah kota suci bagi kaum muslim, tempat berkumpulnya muslimin dari seluruh penjuru dunia, dengan menggunakan pakaian yang sama, menuju Tuhannya, tidak ada perbedaan, baik kaya, miskin, raja, rakyat, semuanya sama dihadapan Tuhan, yang membedakannya adalah takwa.
Nabi Muhammad telah melaksanakan tugasnya, dan sekarang beliau berada di pembaringan, Nabi membuka mata seraya berkata kepada putrinya dengan suara pelan 'Muhammad tidak lain hanyalah seorang Rosul, sungguh telah berlalu sebelumnya beberapa orang rosul. Apakah jika dia wafat atau dibunuh kamu akan berbalik ke belakang? Barangsiapa berpaling ke belakang, maka tidak akan mendatangkan mudarat kepada Allah sedikitpun; dan Allah akan memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur.[29]

E.     Nabi Muhammad Saw Wafat
Pagi itu, Rasulullah dengan suara terbata-bata memberikan petuah[30]: “Wahai umatku, kita semua ada dalam kekuasaan Allah dan Cinta Kasih-Nya. Maka, taati dan bertakwalah hanya kepada-Nya. Kuwariskan dua hal pada kalian, Sunnah dan Al-Qur’an. Barang siapa yang mencintai Sunnahku berarti mencintai aku, dan kelak orang-orang yang mencintaiku, akan bersama-sama masuk surga bersama aku,".
 Khutbah singkat itu diakhiri dengan pandangan mata Rasullah yang teduh menatap sahabatnya satu persatu. Abu Bakar menatap mata itu dengan berkaca-kaca. Umar dadanya naik turun menahan nafas dan tangisnya. Ustman menghela nafas panjang dan Ali menundukan kepalanya dalam-dalam.
Isyarat itu telah datang, saatnya sudah tiba “Rasulullah akan meninggalkan kita semua” desah hati semua sahabat kala itu. Manusia tercinta itu, hampir usai menunaikan tugasnya di dunia.
Tanda-tanda itu semakin kuat, tatkala Ali dan Fadhal dengan sigap menangkap Rasulullah yang limbung saat turun dari mimbar. Saat itu, seluruh sahabat yang hadir di sana sepertinya tengah menahan detik-detik berlalu. Matahari kian tinggi, tapi pintu rumah Rasulullah masih tertutup. Sedang di dalamnya, Rasulullah sedang terbaring lemah dengan keningnya yang berkeringat dan membasahi pelepah kurma yang menjadi alas tidurnya. Tiba-tiba dari luar pintu terdengar seseorang yang berseru mengucapkan salam.
“Assalaamu’alaikum… .Bolehkah saya masuk ?” tanyanya.
Tapi Fatimah tidak mengijinkannya masuk, “Maafkanlah, ayahku sedang demam,” kata Fatimah yang membalikkan badan dan menutup pintu. Kemudian ia kembali menemani ayahnya yang ternyata sudah membuka mata dan bertanya kepada Fatimah.
“Siapakah itu, wahai anakku?”
“Tak tahulah aku ayah, sepertinya baru sekali ini aku melihatnya,” tutur Fatimah lembut.  Lalu Rasulullah menatap putrinya itu dengan pandangan yang menggetarkan. Satu-satu bagian wajahnya seolah hendak dikenang.
“Ketahuilah, dialah yang menghapuskan kenikmatan sementara, dialah yang memisahkan pertemuan di dunia. dialah Malaikat Maut,” kata Rasulullah. Fatimah pun menahan tangisnya.
Malaikat Maut datang menghampiri, tapi Rasulullah menanyakan kenapa Jibril tak ikut menyertai. Kemudian dipanggillah Jibril yang sebelumnya sudah bersiap di atas langit untuk menyambut ruh kekasih Allah dan Penghulu dunia ini.
“Jibril, jelaskan apa hakku nanti di hadapan Allah?”  Tanya Rasulullah dengan suara yang amat lemah.
“Pintu-pintu langit telah dibuka, para malaikat telah menanti Ruhmu, semua pintu Surga terbuka lebar menanti kedatanganmu” kata Jibril. Akan tetapi, itu semua ternyata tidak membuat Rasulullah lega, matanya masih penuh kecemasan.
“Engkau tidak senang mendengar kabar ini, Ya Rasulullah?” tanya Jibril lagi.
“Kabarkan kepadaku bagaimana nasib umatku kelak?”
“Jangan khawatir, wahai Rasulullah, aku pernah mendengar Allah berfirman kepadaku: ‘Kuharamkan surga bagi siapa saja, kecuali umat Muhammad telah berada di dalamnya’,” kata Jibril.
Detik-detik semakin dekat, saatnya Izrail melakukan tugas. Perlahan Ruh Rasulullah ditarik. Tampak seluruh tubuh Rasulullah bersimbah peluh, urat-urat lehernya menegang.
“Jibril, betapa sakit sakaratul maut ini,” ujar Rasulullah mengaduh lirih.
Fatimah terpejam, Ali yang di sampingnya menunduk semakin dalam dan Jibril memalingkan muka.
“Jijikkah engkau melihatku, hingga kau palingkan wajahmu, wahai Jibril?” tanya Rasulullah pada malaikat pengantar wahyu itu.
“Siapakah yang tega, melihat kekasih Allah direngut ajal,” kata Jibril.
Kemudian terdengar Rasulullah memekik karena sakit yang tak tertahankan lagi.
“Ya Allah, dahsyat nian maut ini, timpakan saja semua siksa maut ini kepadaku, jangan kepada umatku.”
Badan Rasulullah mulai dingin, kaki dan dadanya sudah tak bergerak lagi. Bibirnya bergetar seakan hendak membisikan sesuatu, Ali segera mendekatkan telinganya.
“Peliharalah shalat dan santuni orang-orang lemah diantaramu”
Di luar pintu, tangis mulai terdengar bersahutan, sahabat saling berpelukan. Fatimah menutupkan tangan diwajahnya, dan Ali kembali mendekatkan telinganya ke bibir Rasulullah yang mulai kebiruan.
“Ummatii. ummatii. ummatii.”
“Wahai jiwa yang tenang kembalilah kepada tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhai-Nya, maka masuklah ke dalam jamaah hamba-hamba-Ku dan masuklah ke dalam jannah-Ku.”
‘Aisyah ra berkata: ”Maka jatuhlah tangan Rasulullah, dan kepala beliau menjadi berat di atas dadaku, dan sungguh aku telah tahu bahwa beliau telah wafat.” 
Dia berkata: ”Aku tidak tahu apa yg harus aku lakukan, tidak ada yg kuperbuat selain keluar dari kamarku menuju masjid, yang di sana ada para sahabat, dan kukatakan: ”Rasulullah telah wafat, Rasulullah telah wafat, Rasulullah telah wafat.”
Maka mengalirlah tangisan di dalam masjid, karena beratnya kabar tersebut, ‘Ustman bin Affan seperti anak kecil menggerakkan tangannya ke kiri dan ke kanan.
Adapun Umar bin Khathab berkata: ”Jika ada seseorang yang mengatakan bahwa Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam telah meninggal, akan kupotong kepalanya dengan pedangku, beliau hanya pergi untuk menemui Rabb-Nya sebagaimana Musa pergi untuk menemui Rabb-Nya.” 
Adapun orang yang paling tegar adalah Abu Bakar, dia masuk kepada Rasulullah, memeluk beliau dan berkata: ”Wahai sahabatku, wahai kekasihku, wahai bapakku.”  Kemudian dia mencium Rasulullah dan berkata: ”Anda mulia dalam hidup dan dalam keadaan mati.”
Keluarlah Abu Bakar ra menemui orang-orang dan berkata: ”Barangsiapa menyembah Muhammad, maka Muhammad sekarang telah wafat, dan barangsiapa yang menyembah Allah, maka sesungguhnya Allah kekal, hidup, dan tidak akan mati.” 
‘Aisyah berkata: “Maka akupun keluar dan menangis, aku mencari tempat untuk menyendiri dan aku menangis sendiri.”
Inna lillahi wainna ilaihi raji’un, telah berpulang ke rahmat Allah manusia yang paling mulia, manusia yang paling kita cintai pada waktu dhuha ketika memanas di hari Senin 12 Rabiul Awal 11 H tepat pada usia 63 tahun lebih 4 hari.


BAB III
PENUTUP

A.     Kesimpulan
1.      Nabi Muhammad dilahirkan di Makkah pada hari senin tanggal 12 rabi’ul awal 570 M dan disebut juga sebagai tahun gajah. Penamaan tahun gajah berkaitan dengan peristiwa pasukan gajah yang dipimpin oleh Abrahah, Gubernur Krajaan Habsy yang ingin menghancurkan Ka’bah yang berada kota Mekkah dengan menunggangi Gajah, maka tahun itu sebut dengan tahun Gajah.
2.      Gua Hira, tempat diturunkannya kalimat Tuhan Yang Esa, kalimat yang membuat iblis berputus asa untuk menyesatkan manusia, kalimat yang dengannya alam semesta berguncang. Jibril diutus Allah SWT untuk menyampaikan kalimat-Nya secara berangsur-angsur kepada nabi yang berada di Gunung Hira'. Jibril datang kepadanya dengan membawa beberapa menyampaikan wahyu berupa Q.S Al-‘Alaq ayat 1-5.
3.      Nabi Saw hijrah ke Madinah pada tahun ke 13 kenabian yang bertepatan dengan tahun 622 M. Di dalam riwayat Ibnu Ishak dijelaskan bahwa beliau keluar dari rumahnya yang saat itu sedang dikepung oleh pasukan bersenjata kaum musyrik Makkah yang ingin membunuhnya.
4.      Tahun kesebelas Hijrah, haji pertama Nabi dan kaum Muslimin tanpa ada seorang musrik pun yang ikut didalamnya, untuk pertama kalinya pula, lebih dari 10.000 orang berkumpul di Madinah dan sekitarnya, menyertai Nabi melakukan perjalanan ke Makkah, dan sekaligus inilah haji terakhir yang dilakukan oleh Nabi.
5.      Nabi Muhammad wafat pada waktu dhuha ketika memanas di hari Senin 12 Rabiul Awal 11 H tepat pada usia 63 tahun lebih 4 hari.



B.     Kritik dan Saran
Pembuatan makalah ini, masih jauh dari kata sempurna. Maka dari itu, kritik dan saran yang membangun akan sangat membantu dalam penyempurnaan tulisan ini.


[1] Abdul Haq Vidyarthi dan Abdul Ahad Dawud, Ramalan Tentang Muhammad SAW, (Jakarta : PT. Mizan Publika, 2006) hal. 94
[2] Ibid., hal 96.
[3] Muhammad Arsyad Thalib Lubis, Risalah Pelajaran Tarikh Riwayat Nabi Muhammad SAW, (Kandangan : Toko Buku Sahabat, 1 Muharam 1371 H/2 Oktober 1951 M) Hal. 42
[4] Ibid., hal. 44.
[5] Ibid., hal 47.
[6] Ibid., hal 57.
[7] Badri Yatim, Sejarah Peradaban Islam, (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 1997), hal. 9
[8] Ibid., hal.,11.
[9] Ibid., hal., 13.
[10] Nayla Putri dkk, Sirah Nabawiyah. (Bandung: CV. Pustaka Islamika, 2008), hal. 71.
[11] Ibid., hal., 73.
[12] Ibid., hal., 76.
[13] Badri Yatim, Op.Cit., hal., 33.
[14] Ibid., hal 35.
[15] Muhammad Husain Haekal, Sejarah Hidup Muhammad, (Jakarta: Litera Antarnusa, 1990, cet. 12), hal. 49.
[16] Ibid., hal 52.
[17] Ibid., hal 56.
[18] Ibid., hal 58.
[19] Ibid., hal 61.
[20] Ibid., hal 64.
[21] Ibid., hal 67.
[22] Ibid., hal 78.
[23] Muhammad Husain Haekal, Loc. Cit.
[24] Ibid., hal 76.
[25] Ibid., hal 82.
[26] Abdul Hameed Siddiqui, The Life Muhammad, (Delhi: Righway Publication, 2001), 64.
[27] Ibid,. hal 67.
[28] Ibid., hal. 72.
[29] Ibid., hal. 75.
[30] Ja’far Al-Barzanji, AL-Maulid An-Nabawi, (Jakarta: Maktabah Sa’diyah. Tt.), hal., 16.

Comments

Popular posts from this blog

CONTOH SK PENGEMBANG KURIKULUM DAN NOTULEN

URGENSI MANAJEMEN SUMBER DAYA MANUSIA DALAM ORGANISASI

SOAL UP PENDIDIKAN PROFESI GURU (PPG)