Masa Nabi Muhammad SAW
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Gurun tandus yang di kelilingi gurun pasir dan gunung-gunung, yang mana
pada masa itu kehidupan manusia sangatlah buruk, sehingga disebutlah pada masa
itu dengan zaman jahiliyah atau zaman kebodohan manusia, dilahirkanlah seorang
manusia pilihan, yang merupakan pembawa cahaya iman, sebagai panutan akhlak
yang mulia bagi umat manusia dan jin sampai akhir kehidupan di dunia ini.
Beliau adalah bernama MUHAMMAD SAW, seorang manusia pilihan yang dilahirkan
dengan penuh kemuliaan hingga akhir hayatnya. dari betapa agungnya beliau.
Mulai dari lahir hingga wafatnya selalu penuh dengan kemuliaan. Beliau selalu
memikirkan tentang umatnya.
Melihat begitu menariknya kisah Nabi Muhammad SAW, maka itu penulis berminat
untuk mengangkat tema tersebut dalam makalah yang berisikan tentang sejarah
perjalanan hidup Nabi Muhammad SAW. Namun, jika dalam makalah ini masih banyak
kekurangan dan kekeliruan baik dalam penyusunan kalimat, karena keterbatasan
pengetahuan penulis dan masih kurangnya buku-buku pendukung dalam penulisan
ini.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang
maka rumusan masalah dalam penulisan makalah ini adalah sebagai berikut.
1. Bagaimana sejarah kelahiran Nabu Muhammad SAW?
2. Bagaimana proses pengangkatan Nabi Muhammad SAW menjadi rosul?
3. Bagaimanakah hijahnya Nabi Muhammad SAW?
4. Bagaimana kisah yang terjadi pada haji wada?
5. Bagaimana saat Nabi Muhammad wafat?
C. Tujuan
Berdasarkan rumusan masalah di atas, maka tujuan dari pembuatan makalah ini
adalah sebagai berikut.
1. Mendeskripsikan proses kelahiran Nabi Muhammad SAW.
2. Mendeskripsikan proses pengangkatan Nabi Muhammad SAW menjadi rosul.
3. Menjelaskan hijrah Nabi ke Madinah.
4. Mendeskripsikan peristiwa yang terjadi saat haji wada.
5. Menjelaskan peristiwa saat Nabi Muhammad wafat.
BAB II
PEMBAHASAN
A. Kelahiran
Nabi Muhammad SAW
Nabi Muhammad
dilahirkan di Makkah pada hari senin tanggal 12 rabi’ul awal 570 M dan disebut
juga sebagai tahun gajah. Penamaan tahun gajah berkaitan dengan peristiwa
pasukan gajah yang dipimpin oleh Abrahah, Gubernur Krajaan Habsy yang ingin
menghancurkan Ka’bah yang berada kota Mekkah dengan menunggangi Gajah, maka
tahun itu sebut dengan tahun Gajah. Nabi Muhammad adalah anggota dari bani
Hasyim. Keluarga Nabi Muhammad merupakan keluarga terhormat namun tergolong
keluarga miskin. Nabi Muhammad putra dari pasangan Abdullah bin Abdul
muthalib dengan Aminah binti Wahab. Ketika
Nabi Muhammad s.a.w. masih. di dalam kandungan ibunya, Abdullah, ayahnya, pergi
ke negeri Syam (Siria) untuk berdagang. Tetapi, sepulang dari sana, ketika
sampai di kota Madinah, ia menderita sakit dan Ayah Nabi Muhammad meninggal
dunia ketika Nabi Muhammad masih dalam kandungan ibunya.[1]
Nama Muhammad
diberikan oleh kakeknya, Abdul Muttalib. “Muhammad” dalam bahasa Arab berarti
“dia yang terpuji”.Muslim mempercayai bahwa ajaran Islam yang dibawa oleh
Muhammad adalah penyempurnaan dari agama-agama yang dibawa oleh nabi-nabi
sebelumnya.[2]
Mereka memanggilnya dengan gelar Rasulullah dan menambahkan kalimat
“Sallallaahu Alayhi Wasallam” yang berarti “semoga Allah memberi kebahagiaan
dan keselamatan kepadanya” sering disingkat “S.A.W” atau “SAW” setelah namanya.
Selain itu Al-Qur’an dalam Surah As-Saff (QS 61:6) menyebut Muhammad dengan
nama “Ahmad”, yang dalam bahasa Arab juga berarti “terpuji” As-Saff (QS 61).
“Dan (ingatlah) ketika Isa Putra Maryam berkata: “Hai Bani Israel,
sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu, membenarkan kitab (yang turun)
sebelumku, yaitu Taurat dan memberi kabar gembira dengan (datangnya) seorang
Rasul yang akan datang sesudahku, yang namanya Ahmad (Muhammad)” Maka tatkala
rasul itu datang kepada mereka dengan membawa bukti-bukti yang nyata, mereka
berkata: “Ini adalah sihir yang nyata”.[3]
Nabi Muhammad SAW
adalah anggota Bani Hasyim, sebuah kabilah yang paling mulia dalam suku Quraisy
yang mendominasi masyarakat Arab.Ayahnya bernama Abdullah Muttalib, seorang
kepala suku Quraisy yang besar pengaruhnya. Ibunya bernama Aminah binti Wahab
dari Bani Zuhrah.Baik dari garis ayah maupun garis ibu, silsilah Nabi Muhammad
SAW sampai kepada Nabi Ibrahim ASdan Nabi Ismail AS.[4]
Tahun kelahiran Nabi
Muhammad SAW dikenal dengan nama Tahun Gajah, karena pada tahun itu terjadi
peristiwa besar, yaitu datangnya pasukan gajah menyerbu Mekkah dengan tujuan
menghancurkan Ka’bah. Pasukan itu dipimpin oleh Abrahah, gubernur Kerajaan
Habsyi di Yaman. Abrahah ingin mengambil alih kota Mekkah dan Ka’bahnya sebagai
pusat perekonomian dan peribadatan bangsa Arab. Dalam penyerangan Ka’bah itu,
tentara Abrahah hancur karena terserang penyakit yang mematikan yang dibawa
oleh burung Ababil yang melempari tentara gajah.Abrahah sendiri lari kembali ke
Yaman dan tak lama kemudian meninggal dunia.[5]
Peristiwa ini
dikisahkan dalam Al-Qur’an surat Al-Fil: 1-5 “Apakah kamu tidak memperhatikan
bagaimana Tuhanmu telah bertindak terhadap tentara bergajah?Bukankah Dia telah
menjadikan tipu daya mereka (untukmenghancurkan Kakbah) itu sia-sia?Dan Dia
mengirimkan kepada mereka burung yang berbondong-bondong,yang melempari mereka
dengan batu (berasal) dari tanah yang terbakar, lalu Dia menjadikan mereka
seperti daun-daun yang dimakan (ulat)”.[6]
Sudah menjadi suatu
kebiasaan di Mekkah, anak yang baru lahir diasuh dan disusui oleh wanita desa
dengan maksud supaya ia bisa tumbuh dalam pergaulan masyarakat yang baik dan
udara yang lebih bersih. Saat itulah ada wanita bernama Halimah binti Abu
Du’aib as Sa’diyah. Keluarga Halimah tergolong miskin, karena itu ia sempat
merasa ragu untuk mengasuh Nabi Muhammad karena keluarga Aminah sendiri juga
tidak terlalu kaya.[7]
Akan tetapi entah
mengapa Nabi Muhammad yang masih bayi itu sangat menawan hatinya, sehingga
akhirnya Halimah pun mengambil Nabi Muhammad SAW sebagai anak asuhnya.Ternyata
kehadiran Nabi Muhammad SAW sangat membawa berkah pada keluarga Halimah. Jika
pada saat itu kambing peliharaan Haris, suami Halimah, bertubuh
kurus-kurus, tetapi setelah memelihara rasulullah kambing-kambing tersebut
menjadi gemuk-gemuk dan menghasilkan susu lebih banyak dari biasanya. Rumput
tempat menggembala kambing itu juga tumbuh subur.Kehidupan keluarga Halimah
yang semula suram berubah menjadi bahagia dan penuh kedamaian.Mereka yakin
sekali bahwa bayi dari Mekkah yang mereka asuh itulah yang membawa berkah bagi
kehidupan mereka.[8]
Setelah 2 tahun
halimatus Sa’diyah mengasuh nabi. Halimatus Sa’diyah meminta 2 tahun lagi untuk
mengasuh nabi, dan setelah di sepakati dalam rapat keluarga, halimatus Sa’diyah
kembali mengasuh nabi 2 tahun lagi, hingga empat tahun lah halimatus Sa’diyah
mengasuh nabi Muhammad, maka Dengan berat hati Halimah terpaksa
mengembalikan anak asuhnya yang telah membawa berkah itu, sementara Aminah
sangat senang melihat anaknya kembali dalam keadaan sehat dan segar.[9]
Dalam masa Pada
saat Nabi Muhammad berusia 6 tahun, ibunya Aminah binti Wahab mengajaknya ke
Yatsrib (Madinah) untuk mengunjungi keluarganya serta mengunjungi makam
ayahnya.disana Aminah menceritakan perihal ayah nya Abdullah yang berdagang ke
negeri Syam, dan jatuh sakit hingga wafat. Hal itu membawa kesedihan kepada
nabi Muhammad, hingga peristiwa tersebut di sebut-sebut beliau setelah menjadi
rasul dan hijrah ke Madinah.[10]
Setelah satu bulan
beliau tinggal di madinah bersama ibunya, kemudian beliau kembali ke mekkah.
Namun dalam perjalanan pulang, ibunya jatuh sakit.Setelah beberapa hari, Aminah
meninggal dunia di Abwa’ yang terletak tidak jauh dari Yatsrib, dan dikuburkan
di sana.
Setelah itu nabi
Muhammad SAW di asuh oleh kakek dari ayahnya yang bernama Abdul Muthalib, Abdul
Muthalib inilah yang memberi nama Muhammad kepada beliau.Kakek beliau ini
adalah orang yang terpandang dan berwibawa dan sangat di segani serta di
hormati oleh kaum Quraisy. Sekitar 2 tahun lamanya Abdul Muthalib mengasuh
nabi, kemudiain kakek beliau tersebut meninggal. Sepeninggal abdul MuThalib,
nabi muhammad ganti di asuh oleh pamannya yaitu Abu Thalib, yaitu anak dari Abdul
Muthalib.[11]
Nabi Muhammad ikut
untuk pertama kali dalam kafilah dagang ke syiria (syam) dalam usia baru 12
tahun. Kafilah itu dipimpin oleh Abu Tholib, dalam perjalanan ini, di Basroh
sebelah selatan syiria ia bertemu dengan pendeta kristen bernama Buhairoh
“Bahira”. Pendeta ini melihat tanda-tanda kenabian pada Muhammad sesuai dengan
petunjuk cerita-cerita kristen yang terdapat pada kitab Taurat dan Injil.[12] Pendeta
itu pendeta itu menassehati Abu Tholib agar jangan terlalu jauh memasuki
daerah syiria. Sebab dikhawatirkan orang-orang Yahudi yang mengetahui
tanda-tanda itu akan berbuat jahat terhadapnya. Maka di bawalah kembali nabi ke
mekkah, dan di mekkah nabi bekerja dengan mengembala kan kambing-kambing
keluarga dan kembing-kambing orang lain yang di percaya kan kepada nya. Setelah
beliau dewasa, beliau berusaha sendiri dengan berdagang, beliau di kenal dengan
pemuda yang jujur dalam berdagang. Mendengar hal itu Siti Khadijah seorang
janda yang kaya lalu mempercayakan barang dagangan nya kepada beliau, selama
beliau memperdagangkan barang dagangan siti Khadijah, maka semakin terkenalah
kejujuran beliau, tidak hanya di mekkah bahkan sampai ke negeri syam dan
lainnya.[13]
Dan semenjak mendengar
hal itu, Siti Khadijah pun menaruh hati kepada Nabi Muhammad, dan berniat untuk
menjadi kan nabi Muhammad sebagai suaminya. Untuk itu Khadijah mengutus seorang
teman dekatnya dan menyampaikan nya kepada nabi, bahwa maksud kedatanganya
ialah untuk menyampaikan pesan Siti Khadijah, mendengar hal tersebut, nabi
merasa terkejut, dan berdebar-debar, lalu beliau berfikir sejenak serta
bermusyawarah dengan keluarga, dan keluarga beliau pun setuju.[14]
B. Nabi Muhammad
Saw Menjadi Rasul Allah
Gua Hira,
tempat diturunkannya kalimat Tuhan Yang Esa, kalimat yang membuat iblis
berputus asa untuk menyesatkan manusia, kalimat yang dengannya alam semesta
berguncang. Jibril diutus Allah SWT untuk menyampaikan
kalimat-Nya secara berangsur-angsur kepada nabi yang berada di Gunung Hira'.
Jibril datang kepadanya dengan membawa beberapa menyampaikan
wahyu berupa Q.S Al-‘Alaq ayat 1-5.[15]
Setelah berdakwah kepada kaum
kerabatnya secara sembunyi-sembuni, Nabi berdakwah
terang-terangan kepada kaum Quraisy. Muhammad, berbekal kesabaran, keyakinan,
kegigihan, dan keuletan dalam berdakwah terus-menerus dan tidak
menghiraukan orang-orang musrik yang terus menghardik dan mengejeknya. Banyak
yang cara yang dilakukan kaum Quraisy untuk menghentikan Muhammad, suatu saat
Abu Tholib sedang duduk bersama keponakannya.[16]
Juru bicara rombongan yang
mendatangi rumah Abu Tholib membuka pembicaraan dengan berkata,' Wahai Abu
Tholib! Muhammad mencerai-beraikan barisan kita dan menciptakan perselisihan
diantara kita. Ia merendahkan kita dan mencemooh kita dan berhala kita. Jika ia
melakukan itu karena kemiskinan dan kepapaannya, kami siap menyerahkan harta
berlimpah kepadanya.[17]
Jika ia menginginkan kedudukan, kami siap menerimanya sebagai penguasa kami dan
kami akan mengikuti perintahnya. Bila ia sakit dan membutuhkan pengobatan, kami
akan membawakan tabib ahli untuk merawatnya.
Orang Quraisy meninggalkan
rumah Abu Tholib dengan wajah dan mata terbakar kemarahan.
Mereka terus memikirkan cara untuk mencapai tujuan mereka.
Banyak sekali contoh
penganiayaan dan penyiksaan kaum Quraisy, Tiap hari nabi menghadapi
penganiayaan baru.[18]
Misalnya, suatu hari Uqbah bin Abi Mu'ith melihat Nabi
bertawaf, lalu menyiksanya. Ia menjerat leher Nabi dengan serbannya dan
menyeret beliau ke luar masjid. Beberapa orang datang membebaskan Nabi karena
takut kepada Bani Hasyim. Dan masih banyak lagi.
Nabi menyadari dan prihatin
terhadap kondisi kaum Muslim. Kendati beliau mendapat dukungan dan lindungan
Bani Hasyim, kebanyakan pengikutnya budak wanita dan pria serta beberapa orang tak terlindung.[19]
Para pemimpin Quraisy menganiaya orang-orang ini terus-menerus, para pemimpin
terkemuka berbagai suku menyiksa anggota suku mereka sendiri yang memeluk
Islam. Maka ketika para sahabatnya meminta nasihatnya menyangkut hijrah.
Pasukan
Syirik Quraisy kehabisan akal untuk menghancurkan Muhammad, maka mereka
melakukan propaganda anti Muhammad,
diantaranya mereka memfitnah Nabi, bersikeras menjuluki Nabi gila, larangan
mendengarkan Al-Qur'an, menghalangi orang masuk Islam, sehingga Allah
mengabadikan perkataan orang-orang keji ini dan menunjukkan sesatnya perkataan
mereka.[20]
Kaum Quraisy pun gagal
melakukan berbagai macam cara untuk menghalangi usaha Muhammad, dan menghalangi
orang-orang untuk mengikuti agama Tuhan Yang Esa. Mereka pun melakukan Blokade
ekonomi yang membuat banyak kaum muslim, terutama kaum wanita dan anak-anak kelaparan.
Nabi dan para pengikutnya masuk ke Syi'ib Abu Tholib, yang diikuti pendamping
hidupnya, Khodijah, dengan membawa serta Fatimah AS. Orang-orang Quraisy
mengepung mereka di Syi''ib itu selama tiga tahun.[21]
Dan akhirnya tahun-tahun blokade itu pun berakhir. Dan keluarlah sang bintang
bersama keluarga dan sahabatnya dari pengepungan. Allah telah menetapkan
kemenangan bagi mereka, dan Khodijah pun berhasil pula keluar dari pengepungan
dalam keadaan amat berat dan menderita, Beliau telah hidup dengan kehidupan
yang menjadi teladan Istimewa bagi kalangan kaum wanita. Ajal Khodijah sudah
dekat. Allah telah memilihnya untuk mendampingi Rosulullah Saww., dan dia telah
berhasil menunaikan tugas dengan baik. Khodijah akhirnya meninggal pada tahun itu juga. Yakni, pada saat kaum Muslim keluar dari
blokade orang-orang Quraisy, tahun kesepuluh sesudah Kenabian.[22]
Pada tahun yang sama, paman
Rosul (Abu Tholib) meninggal dunia, yang sekaligus sebagai pelindung dakwa
Muhammad. Sungguh Nabi mengalami kesedihan yang amat berat. Beliau kehilangan
Khodijah, dan juga pamannya yang menjadi pelindung, dan pembelanya. Itu
sebabnya, maka tahun ini dinamakan 'Am Al-Huzn (Tahun Duka cita).
Bukan hanya Rosul yang
terpukul hatinya, Fatimah, yang belum kenyang mengenyam kasih sayang seorang
ibu dan kelembutan belaiannya, ikut pula menanggungnya. Kedukaan menyelimuti
dan menindihnya di tahun penuh kesedihan itu.Fatimah kehilangan ibundanya,
berpisah dari orang yang menjadi sumber cintanya dan kasih sayangnya.[23]
Kaum
Quraisy yang berada di Mekah akhirnya membuat kesepakatan untuk membunuh
Muhammad di malam hari, dan masing-masing suku mempunyai wakil, sehingga Bani
Hasyim tidak dapat menuntut balas atas kematian Muhammad. Orang-orang ini memang bodoh,
mereka mengira Muhammad dapat dihancurkan hanya dengan cara seperti ini, seperti
urusan duniawi mereka. Jibril datang memberitahu Nabi tentang rencana kejam
kaum kafir itu.[24]
Ali berbaring melewati cobaan yang mengerikan demi
keselamatan Islam menggantikan Nabi, sejak sore. Ia bukan orang
tua yang lanjut usia, tapi seorang anak muda yang begitu berani mengorbankan
nyawanya untuk sang Nabi, ia, yang bersama Khodijah adalah orang yang
pertama-tama beriman kepada Nabi, dialah orang yang rela berkorban untuk Nabi,
Ali, sekali lagi '˜Ali. Kepadanya Nabi berkata,''Tidurlah di ranjang saya malam
ini dan tutupi tubuh Anda dengan selimut hijau yang biasa saya gunakan, karena
musuh telah bersekongkol membunuh saya. Saya harus berhijrah ke Yastrib.˜Ali
menempati ranjang Nabi sejak sore. Ketika tiga perempat malam lewat, empat
puluh orang mengepung rumah nabi dan mengintipnya melalui celah. Mereka melihat
keadaan rumah seperti biasanya, dan menyangka bahwa orang yang sedang tidur di
kamar itu adalah Nabi.[25]
C. Nabi
Muhammad Saw Hijrah
Nabi Saw
hijrah ke Madinah pada tahun ke 13 kenabian yang bertepatan dengan tahun 622 M.
Di dalam riwayat Ibnu Ishak dijelaskan bahwa beliau keluar dari rumahnya yang
saat itu sedang dikepung oleh pasukan bersenjata kaum musyrik Makkah yang ingin
membunuhnya.[26]
Lalu Allah Swt menidurkan mereka. Sambil membaca QS. Yasin: 1-9 beliau manaruh
pasir di kepala mereka semua, kemudian pergi ke rumah Abu Bakar untuk hijrah
bersama ke kota Madinah. Nabi Muhammad saw tiba di Madinah pada hari Senin
tanggal 12 Rabiul Awwal tahun 1 Hijriyah.
Tekanan
orang-orang kafir terhadap perjuangan Rasulullah semakin hebat selepas
kepergian isteri dan bapa saudara baginda. Maka Rasulullah mengambil
keputusan untuk berhijrah ke Madinah berikutan ancaman daripada kafir Quraisy
untuk membunuh baginda.
Rasulullah disambut dengan meriahnya oleh para
penduduk Madinah. Mereka digelar kaum Muhajirin manakala penduduk-penduduk
Madinah dipanggil golongan Ansar. Seruan baginda diterima baik oleh kebanyakan
para penduduk Madinah dan sebuah negara Islam didirikan di bawah pimpinan
Rasulullas s.a.w sendiri.
D. Haji Wada
Tahun
kesebelas Hijrah, haji pertama Nabi dan kaum Muslimin tanpa ada seorang musrik
pun yang ikut didalamnya, untuk pertama kalinya pula, lebih dari 10.000 orang
berkumpul di Madinah dan sekitarnya, menyertai Nabi melakukan perjalanan ke
Makkah, dan sekaligus inilah haji terakhir yang dilakukan oleh Nabi.[27]
Rombongan haji meninggalkan Madinah tanggal 25 Dzulqa'idah,
Nabi disertai semua isterinya, menginap satu malam di Dzi Al-Hulaifah, kemudian
melakukan Ihram sepanjang Subuh, dan mulai bergerak. Seluruh padang terisi gema
suara mereka yang mengucapkan,"Labbaik, Allahumma labaik... Labbaik, la syarika laka!
Aku datang
memenuhi panggilanmu, Allahumma, ya Allah, aku datang memenuhi panggilan-Mu.
Tiada sekutu bagi-Mu... Labbaik, aku datang memenuhi
panggilan-Mu. Segala puji, kenikmatan, dan kemaharajaan, hanya bagi-Mu. Tiada
sekutu bagi-Mu... Labbaik, aku datang memenuhi panggilan-Mu..."
Langit, hingga hari itu, belum
pernah menyaksikan pemandangan di muka bumi seperti yang ada pada saat itu.
Lebih dari 100.000 orang, laki-laki dan perempuan ' di bawah sengatan Matahari yang amat terik dan di padang
pasir yang sebelumnya tak pernah dikenal orang ' bergerak menuju satu arah.
Medan ini merupakan lukisan paling indah dari satu warna yang menghiasi
kehidupan manusia.
Matahari tepat di tengah siang hari itu. Seakan-akan
ia menumpahkan seluruh cahayannya yang memakar ke atas kepala semua orang. Nabi
berdiri di depan lebih dari 100.000 orang. Laki-laki dan perempuan yang
mengelilinginya. Nabi memulai pidatonya, Rosulullah berkata,'Tahukah kalian, bulan apa ini ?"
Mereka serentak
menjawab,"Bulan Haram!.....
"Ayyuhan Nas, camkan
baik-baik perkataanku. Sebab, aku tidak tahu, mungkin aku tidak lagi akan
bertemu dengan kalian sesudah tahun ini, di tempat ini, untuk selama-lamanya...
Ayyuhan Nas, sesungguhnya darah dan hartamu adalah haram bagimu hingga kalian
menemui Tuhanmu sebagaimana diharamkannya hari dan bulanmu ini. Sesudah itu,
kamu sekalian akan menemui Tuhanmu dan ditanya tentang amal-amalmu. Sungguh,
aku telah sampaikan hal ini. Maka, barangsiapa yang masih mempunyai amanat,
hendaknya segera disampaikan kepada orang yang berhak menerimanya”.[28]
Akar-akar syirik telah dihapuskan dari Mekah, dan
Mekah menjadi sebuah kota suci bagi kaum muslim, tempat berkumpulnya muslimin
dari seluruh penjuru dunia, dengan menggunakan pakaian yang sama, menuju
Tuhannya, tidak ada perbedaan, baik kaya, miskin, raja, rakyat, semuanya sama
dihadapan Tuhan, yang membedakannya adalah takwa.
Nabi Muhammad telah melaksanakan tugasnya, dan
sekarang beliau berada di pembaringan, Nabi membuka mata seraya berkata kepada
putrinya dengan suara pelan 'Muhammad tidak lain hanyalah seorang Rosul,
sungguh telah berlalu sebelumnya beberapa orang rosul. Apakah jika dia wafat atau
dibunuh kamu akan berbalik ke belakang? Barangsiapa berpaling ke belakang, maka
tidak akan mendatangkan mudarat kepada Allah sedikitpun; dan Allah akan memberi
balasan kepada orang-orang yang bersyukur.[29]
E. Nabi Muhammad Saw Wafat
Pagi itu,
Rasulullah dengan suara terbata-bata memberikan petuah[30]: “Wahai
umatku, kita semua ada dalam kekuasaan Allah dan Cinta Kasih-Nya. Maka, taati
dan bertakwalah hanya kepada-Nya. Kuwariskan dua hal pada kalian, Sunnah dan
Al-Qur’an. Barang siapa yang mencintai Sunnahku berarti mencintai aku, dan
kelak orang-orang yang mencintaiku, akan bersama-sama masuk surga bersama
aku,".
Khutbah singkat itu diakhiri dengan pandangan
mata Rasullah yang teduh menatap sahabatnya satu persatu. Abu Bakar menatap
mata itu dengan berkaca-kaca. Umar dadanya naik turun menahan nafas dan
tangisnya. Ustman menghela nafas panjang dan Ali menundukan kepalanya
dalam-dalam.
Isyarat itu telah
datang, saatnya sudah tiba “Rasulullah akan meninggalkan kita semua”
desah hati semua sahabat kala itu. Manusia tercinta itu, hampir usai menunaikan
tugasnya di dunia.
Tanda-tanda itu semakin
kuat, tatkala Ali dan Fadhal dengan sigap menangkap Rasulullah yang limbung
saat turun dari mimbar. Saat itu, seluruh sahabat yang hadir di sana sepertinya
tengah menahan detik-detik berlalu. Matahari kian tinggi, tapi pintu rumah
Rasulullah masih tertutup. Sedang di dalamnya, Rasulullah sedang terbaring
lemah dengan keningnya yang berkeringat dan membasahi pelepah kurma yang
menjadi alas tidurnya. Tiba-tiba dari luar pintu terdengar seseorang yang
berseru mengucapkan salam.
“Assalaamu’alaikum…
.Bolehkah saya masuk ?” tanyanya.
Tapi Fatimah tidak
mengijinkannya masuk, “Maafkanlah, ayahku sedang demam,” kata Fatimah
yang membalikkan badan dan menutup pintu. Kemudian ia kembali menemani ayahnya
yang ternyata sudah membuka mata dan bertanya kepada Fatimah.
“Siapakah itu, wahai anakku?”
“Tak tahulah aku ayah,
sepertinya baru sekali ini aku melihatnya,” tutur Fatimah lembut. Lalu Rasulullah menatap putrinya itu dengan
pandangan yang menggetarkan. Satu-satu bagian wajahnya seolah hendak dikenang.
“Ketahuilah, dialah
yang menghapuskan kenikmatan sementara, dialah yang memisahkan pertemuan di
dunia. dialah Malaikat Maut,” kata Rasulullah.
Fatimah pun menahan tangisnya.
Malaikat Maut datang
menghampiri, tapi Rasulullah menanyakan kenapa Jibril tak ikut menyertai.
Kemudian dipanggillah Jibril yang sebelumnya sudah bersiap di atas langit untuk
menyambut ruh kekasih Allah dan Penghulu dunia ini.
“Jibril, jelaskan apa
hakku nanti di hadapan Allah?” Tanya Rasulullah dengan
suara yang amat lemah.
“Pintu-pintu langit
telah dibuka, para malaikat telah menanti Ruhmu, semua pintu Surga terbuka
lebar menanti kedatanganmu” kata Jibril. Akan tetapi,
itu semua ternyata tidak membuat Rasulullah lega, matanya masih penuh
kecemasan.
“Engkau tidak senang
mendengar kabar ini, Ya Rasulullah?” tanya Jibril lagi.
“Kabarkan kepadaku
bagaimana nasib umatku kelak?”
“Jangan khawatir, wahai
Rasulullah, aku pernah mendengar Allah berfirman kepadaku: ‘Kuharamkan surga
bagi siapa saja, kecuali umat Muhammad telah berada di dalamnya’,” kata Jibril.
Detik-detik semakin
dekat, saatnya Izrail melakukan tugas. Perlahan Ruh Rasulullah ditarik. Tampak
seluruh tubuh Rasulullah bersimbah peluh, urat-urat lehernya menegang.
“Jibril, betapa sakit
sakaratul maut ini,” ujar Rasulullah
mengaduh lirih.
Fatimah terpejam, Ali
yang di sampingnya menunduk semakin dalam dan Jibril memalingkan muka.
“Jijikkah engkau
melihatku, hingga kau palingkan wajahmu, wahai Jibril?” tanya Rasulullah pada malaikat pengantar wahyu itu.
“Siapakah yang tega,
melihat kekasih Allah direngut ajal,” kata Jibril.
Kemudian terdengar
Rasulullah memekik karena sakit yang tak tertahankan lagi.
“Ya Allah, dahsyat nian
maut ini, timpakan saja semua siksa maut ini kepadaku, jangan kepada umatku.”
Badan Rasulullah mulai
dingin, kaki dan dadanya sudah tak bergerak lagi. Bibirnya bergetar seakan
hendak membisikan sesuatu, Ali segera mendekatkan telinganya.
“Peliharalah shalat dan
santuni orang-orang lemah diantaramu”
Di luar pintu, tangis
mulai terdengar bersahutan, sahabat saling berpelukan. Fatimah menutupkan
tangan diwajahnya, dan Ali kembali mendekatkan telinganya ke bibir Rasulullah
yang mulai kebiruan.
“Ummatii. ummatii. ummatii.”
“Wahai jiwa yang tenang
kembalilah kepada tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhai-Nya, maka
masuklah ke dalam jamaah hamba-hamba-Ku dan masuklah ke dalam jannah-Ku.”
‘Aisyah ra berkata: ”Maka
jatuhlah tangan Rasulullah, dan kepala beliau menjadi berat di atas dadaku, dan
sungguh aku telah tahu bahwa beliau telah wafat.”
Dia berkata: ”Aku
tidak tahu apa yg harus aku lakukan, tidak ada yg kuperbuat selain keluar dari
kamarku menuju masjid, yang di sana ada para sahabat, dan kukatakan: ”Rasulullah
telah wafat, Rasulullah telah wafat, Rasulullah telah wafat.”
Maka mengalirlah
tangisan di dalam masjid, karena beratnya kabar tersebut, ‘Ustman bin Affan
seperti anak kecil menggerakkan tangannya ke kiri dan ke kanan.
Adapun Umar bin Khathab
berkata: ”Jika ada seseorang yang mengatakan bahwa Rasulullah Shalallahu
‘Alaihi Wassalam telah meninggal, akan kupotong kepalanya dengan pedangku,
beliau hanya pergi untuk menemui Rabb-Nya sebagaimana Musa pergi untuk menemui
Rabb-Nya.”
Adapun orang yang
paling tegar adalah Abu Bakar, dia masuk kepada Rasulullah, memeluk beliau dan
berkata: ”Wahai sahabatku, wahai kekasihku, wahai bapakku.” Kemudian
dia mencium Rasulullah dan berkata: ”Anda mulia dalam hidup dan dalam
keadaan mati.”
Keluarlah Abu
Bakar ra menemui orang-orang dan berkata: ”Barangsiapa menyembah Muhammad,
maka Muhammad sekarang telah wafat, dan barangsiapa yang menyembah Allah, maka
sesungguhnya Allah kekal, hidup, dan tidak akan mati.”
‘Aisyah berkata:
“Maka akupun keluar dan menangis, aku mencari tempat untuk menyendiri dan
aku menangis sendiri.”
Inna lillahi wainna
ilaihi raji’un, telah berpulang ke
rahmat Allah manusia yang paling mulia, manusia yang paling kita cintai pada
waktu dhuha ketika memanas di hari Senin 12 Rabiul Awal 11 H tepat pada usia 63
tahun lebih 4 hari.
BAB III
PENUTUP
A.
Kesimpulan
1.
Nabi Muhammad
dilahirkan di Makkah pada hari senin tanggal 12 rabi’ul awal 570 M dan disebut
juga sebagai tahun gajah. Penamaan tahun gajah berkaitan dengan peristiwa
pasukan gajah yang dipimpin oleh Abrahah, Gubernur Krajaan Habsy yang ingin
menghancurkan Ka’bah yang berada kota Mekkah dengan menunggangi Gajah, maka
tahun itu sebut dengan tahun Gajah.
2.
Gua Hira,
tempat diturunkannya kalimat Tuhan Yang Esa, kalimat yang membuat iblis
berputus asa untuk menyesatkan manusia, kalimat yang dengannya alam semesta
berguncang. Jibril diutus Allah SWT untuk menyampaikan
kalimat-Nya secara berangsur-angsur kepada nabi yang berada di Gunung Hira'.
Jibril datang kepadanya dengan membawa beberapa menyampaikan
wahyu berupa Q.S Al-‘Alaq ayat 1-5.
3.
Nabi Saw
hijrah ke Madinah pada tahun ke 13 kenabian yang bertepatan dengan tahun 622 M.
Di dalam riwayat Ibnu Ishak dijelaskan bahwa beliau keluar dari rumahnya yang
saat itu sedang dikepung oleh pasukan bersenjata kaum musyrik Makkah yang ingin
membunuhnya.
4.
Tahun
kesebelas Hijrah, haji pertama Nabi dan kaum Muslimin tanpa ada seorang musrik
pun yang ikut didalamnya, untuk pertama kalinya pula, lebih dari 10.000 orang
berkumpul di Madinah dan sekitarnya, menyertai Nabi melakukan perjalanan ke
Makkah, dan sekaligus inilah haji terakhir yang dilakukan oleh Nabi.
5.
Nabi
Muhammad wafat pada waktu dhuha ketika
memanas di hari Senin 12 Rabiul Awal 11 H tepat pada usia 63 tahun lebih 4 hari.
B.
Kritik dan Saran
Pembuatan makalah ini, masih jauh dari kata sempurna. Maka dari
itu, kritik dan saran yang membangun akan sangat membantu dalam penyempurnaan
tulisan ini.
[1]
Abdul Haq Vidyarthi dan
Abdul Ahad Dawud, Ramalan Tentang Muhammad SAW, (Jakarta : PT. Mizan
Publika, 2006) hal. 94
[2]
Ibid., hal 96.
[3]
Muhammad Arsyad Thalib
Lubis, Risalah Pelajaran Tarikh Riwayat Nabi Muhammad SAW, (Kandangan :
Toko Buku Sahabat, 1 Muharam 1371 H/2 Oktober 1951 M) Hal. 42
[4]
Ibid., hal. 44.
[5]
Ibid., hal 47.
[6] Ibid., hal 57.
[7] Badri Yatim, Sejarah
Peradaban Islam, (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 1997), hal. 9
[8] Ibid., hal.,11.
[9] Ibid., hal.,
13.
[10] Nayla Putri dkk, Sirah
Nabawiyah. (Bandung: CV. Pustaka Islamika, 2008), hal. 71.
[11] Ibid., hal.,
73.
[12] Ibid., hal.,
76.
[13]
Badri Yatim, Op.Cit.,
hal., 33.
[14]
Ibid., hal 35.
[15]
Muhammad Husain
Haekal, Sejarah Hidup Muhammad, (Jakarta: Litera Antarnusa,
1990, cet. 12), hal. 49.
[16] Ibid., hal 52.
[17] Ibid., hal 56.
[18] Ibid., hal 58.
[19] Ibid., hal 61.
[20] Ibid., hal 64.
[21] Ibid., hal 67.
[22] Ibid., hal 78.
[23] Muhammad Husain Haekal,
Loc. Cit.
[24] Ibid., hal 76.
[25] Ibid., hal 82.
[26] Abdul Hameed
Siddiqui, The Life Muhammad, (Delhi: Righway Publication,
2001), 64.
[27] Ibid,. hal 67.
[28] Ibid., hal. 72.
[29] Ibid., hal. 75.
Comments
Post a Comment